Bismillahirrahmaanirrahiim...
Besok saya dan suami akan mengikuti ujian masuk D4 STAN.
Dag dig dug, karena sudah hampir 4 tahun nggak ketemu ujian, apalagi mulai tahun ini ada tes subtantif akademiknya, alias pelajaran waktu kuliah... Mengapa perubahan selalu terjadi pada generasi tahun 90an T_T :D
Mohon doanya yaa.. semoga lancar dan lulus. Aamiin..
Monday, June 22, 2015
Friday, April 24, 2015
Serunya Kartinian di Kantor
Hari Selasa, 21 April kemarin KPP Perusahaan Masuk Bursa mengadakan acara spesial memeriahkan Hari Kartini. Ibu-ibunya diminta memakai kebaya, sedangkan untuk Bapak-bapak diadakan lomba menghias kue dan membaca puisi. Berikut foto-foto keseruan acaranya...
Pertama kali datang semua ibu-ibu disambut oleh Kepala Kantor dan Bapak-bapak lainnya untuk diberikan bingkisan coklat.. Senangnyaaa... :D
Sesi foto bersama Ibu-ibu KPP PMB. Cantik-cantik kan...
Siap-siap Bapak-bapaknya lomba menghias kue... Ampuun deh geregetan ngeliatnya.. Mereka keliatan kesulitan banget, padahal tinggal oles-oles.. (keliatannya aja kali ya gampang :P)
Taraaa.. Ini dia beberapa hasilnya...
Selain menghias kue, ada juga yang lomba membuat dan membaca puisi :))
Demikian keseruan acara Hari Kartini di KPP PMB tahun ini :)
Pertama kali datang semua ibu-ibu disambut oleh Kepala Kantor dan Bapak-bapak lainnya untuk diberikan bingkisan coklat.. Senangnyaaa... :D
Pak Kakap tau aja saya suka coklat :D
Setelah berkumpul acara kemudian dibuka dan membaca doa bersama. Setelah itu saya bertugas membacakan biografi singkat Ibu Kartini. Hihi..
Sesi foto bersama Ibu-ibu KPP PMB. Cantik-cantik kan...
Siap-siap Bapak-bapaknya lomba menghias kue... Ampuun deh geregetan ngeliatnya.. Mereka keliatan kesulitan banget, padahal tinggal oles-oles.. (keliatannya aja kali ya gampang :P)
Taraaa.. Ini dia beberapa hasilnya...
Demikian keseruan acara Hari Kartini di KPP PMB tahun ini :)
Thursday, April 9, 2015
Macet Lagi Macet Lagi
Jakarta semakin macet. Mungkin hal itu yang dirasakan sebagian besar warga Jakarta saat ini, termasuk saya.
Sebagai bagian dari "rombongan pawai kendaraan" yang berangkat pagi pulang malam, saya merasa akhir-akhir ini macet semakin menggila. Yang normalnya dari rumah ke kantor bisa ditempuh selama 40-60 menit, sekarang kami membutuhkan sekitar 60 menit waktu berangkat, dan hampir 2 jam waktu pulang kantor. Parah.
Mungkin macet ini salah satunya disebabkan oleh pembangunan beberapa flyover yang dilaksanakan secara serentak. Sepengetahuan saya saja flyover yang sedang dalam proses pembangunan adalah paket Ciledug-Blok M-Tendean dan STSS Permata Hijau. Proyek-proyek inilah yang jadi biang kerok kemacetan mulai dari Pancoran-Tendean dan lampu merah Kuningan, serta Permata Hijau sebelum Patal Senayan.
Ya wajar saja, jalan yang normalnya bisa dilewati 3-4 lajur mobil, kini hanya bisa dilewati 1-2 lajur saja, bahkan termasuk busway di Perempatan lampu merah Mampang. Keselnya lagi, kalo sore-sore bukannya polisi bantu mengurai kemacetan, malah sibuk razia 3 in 1 di ujung lampu merah (/#&@*&€=*&÷€÷!!@).
Mungkin warga Jakarta masih harus memperpanjang kesabarannya. Kita tunggu pembangunan sarana ini, mudah-mudahan nantinya kemacetan semakin berkurang. Yang paling penting: SEDIAKAN TRANSPORTASI MASA YANG MEMADAI, NYAMAN, DAN TEPAT WAKTU. Maaf saya capslock semua.
Apa gunanya jalan dibuat bersusun-susun sampe tujuh tingkat pun kalo mobil pribadi terus nambah ya tetep aja macet. Metromini udah pada rombeng, angkot ngetem sembarangan ga kenal waktu, ya gimana warga mau tertarik naik transportasi umum. Paling nggak sediain bus transjakarta yang banyak dan tepat waktu, selesaikan MRT, dan perbaiki metromini serta angkot yang akan mengantar ke wilayah pemukiman.
Ah sudahlah, maafkan keluhan saya pagi-pagi tentang macet di Jakarta ini. Mudah-mudahan 10 tahun lagi saya jadi walikota Jakarta Barat, 20 tahun lagi jadi gubernur DKI Jakarta :)).
Tuesday, March 10, 2015
Izati Menikah...
Jumat malam, 6 Maret 2015, kami berkumpul di Stasiun Pasar Senen. Saya dan Suami yang langsung berangkat dari kantor akhirnya bisa tiba di stasiun setelah hampir 30 menit mencari taksi, karena motor kami tinggal di kantor. Di stasiun, kami bagaikan reuni kecil-kecilan karena bertemu beberapa teman semasa kuliah.
Ada yang berbeda dari perjalanan kami ke Klaten kali ini. Selain pulang ke rumah orangtua suami, kami juga memiliki satu acara penting, yang menjadi alasan beberapa teman untuk berangkat ke Klaten juga: Pernikahan Izati.
Kebetulan, ternyata teman-teman yang mau ke Klaten bisa berada dalam satu gerbong, kecuali Niun yang memang membeli tiket bareng dari awal. Setelah permisi-permisi dengan penumpang sebelumnya, akhirnya Dindun pun bisa pindah satu kursi dengan Niun
Rombongan Kondangan Ciwi2 ex 1-J
Kami tiba di Klaten hari Sabtu pagi esoknya. Saya dan suami menuju rumah mertua, sedangkan Niun ikut dengan Evy yang rumahnya memang di Klaten. Hari Sabtu hampir seharian saya di rumah saja karena hujan dari sore sampai malam tak kunjung reda. Gagal lah rencana untuk main ke Umbul Ponggok :(
Minggu pagi sekali saya sudah bangun karena alarm saya set pukul 04.30. Takut kesiangan, baju-baju sudah saya setrika sejak semalam. Jadi bangun pagi tinggal mandi dan...dandan (ini yang lama -__-).
Taraaa.. inilah penampakan sepasang pakaian rancangan saya spesial buat hari istimewa :p.
Siap kondangan
Sebenarnya ada cerita panjang di balik baju ini. Jadi kami sudah ke tukang jahit kira-kira sebulan sebelumnya. Awalnya bawahan kebaya saya itu kain motif rangrang yang saya beli lewat onlineshop di Cirebon, sedangkan kemeja suami kain biru seperti di foto. Tetapiiii, ketika kami mau mengambil jahitan, H-2 sebelum berangkat ke Klaten, ternyata kainnya tertukar T_T Kemeja suami jadi rangrang, bawahan saya jadi kain biru ini.. huhuuuu..sebeeel.. untungnya si tukang jahit profesional banget dan bertanggung jawab. Ia mau mencarikan kain lagi. Kebetulan kain biru ini saya beli di Trusmi Mayestik, jadi gak terlalu jauh dari Bintaro.
Besok paginya tukang jahit langsung meluncur ke Pasar Mayestik. Awalnya Ia mau mencari rangrang yang warnanya senada dengan biru yang kami pakai, tetapi karena tidak ketemu, akhirnya Ia pergi ke Trusmi. Alhamdulillah kain biru yang motifnya sama masih ada di Trusmi, hanya warnanya agak lebih tua. Kemeja pun ternyata tidak bisa tangan panjang. Yasudahlah saya terima saja... Dan inilah hasilnya, cukup memuaskan dan kebaya kutubarunya juga cantik.. Terimakasih Larasati Busana :)
Cakepnyeee penganten :*
Pukul 7 pagi saya dan suami sudah tiba di rumah nenek Izati. Akadnya rencana jam 07.30, jadi si nenek sudah hampir siap dimake up. Karena teman-teman belum ada yang datang, jadilah saya nongkrongin si nenek dimake-up. Jadi inget momen waktu saya mau nikah, saya yang ditongkrongin teman-teman waktu make up, sekarang gantian... :P
Sekitar jam 7 lewat si Niun baru datang,jadilah kami bertiga heboh selpi-an sambil nunggu penghulu dateng.. wkwkwk.. Biarinlah, itung-itung meredakan ketegangan calon penganten...
Maafkan gambar-gambar penuh pipi ini......
Sekitar pukul 08.30, akhirnya penghulu dateng... (Oh Bapak penghulu kenape telat, ini calon manten udah ga sabar...) Si nenek akhirnya keluar ke ruang depan, duduk di meja menghadap penghulu. Setelah itu, Mas Narko dateng.. Dan mereka duduk bersama dalam ketegangan (Eaaaa....)
Bapak Penghulu pun memulai prosesi akad nikah, diawali dengan ceramah pernikahan...dengan bahasa Jawa campur Indonesia. Saya ngerti dikit-dikit, apalagi pas bagian cerita Marlyn Monroe dan Bupati Karanganyar :)) Setelah ceramah selesai, mulailah detik-detik yang bikin deg-degan.. yaitu pembacaan Ijab Qabul, dan nenek mulai menitikan air mata :'). Saya jadi ikutan terharu..huhu.. inget waktu kawin dulu sampe rasanya ga bisa keluar kata-kata waktu membaca izin ke Bapak T_T.
Alhamdulillah sah...
Alhamdulillah, ijab qabul berjalan lancar. Setelah itu dilanjutkan dengan cium tangan dan difoto-foto deh... Hihihi.. Semua pengantin pasti akan mengalami masa-masa disuruh foto gaya-gaya mesra di pelaminan ditonton orang banyak :)))
Tahan yaaa..1..2..3.. Jeprettt! wkwkwk
Setelah foto-foto, pengantin pun ganti baru untuk siap-siap acara resepsi. Teman-teman saya semakin banyak yang berdatangan, bagaikan reuni teman kuliah. Resepsi pun dijalankan dengan adat Jawa. Saya sudah beberapa kali menghadiri resepsi di Jawa. Awalnya saya agak bingung karena berbeda sekali dengan di Jakarta. Kalo di sana tamu-tamu tinggal duduk manis, sedangkan makanan akan diantarkan satu-satu oleh petugas. Mulai dari minum, kemudian kue, makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup. Tamu tinggal menikmati sambil mendengar sambutan-sambutan.
Pengantin wanita pun akan keluar diiringi keluarga dan menjemput mempelai pria. Kalo di acara kemarin, setelah menjemput mempelai pria, si nenek dan Mas Narko dibawa jalan ke pelaminan bersama menggunakan sehelai kain oleh keluarga wanita. Jadi mereka berdua disatukan dengan kain yang ditarik perwakilan keluarga.
Sumringah euy.....
Acara selesai sekitar jam 12, tetapi saya dan suami pulang sekitar jam 11.30 karena tepar udah dari pagi. hahaha... Selamat menikah nenek Izati dan Mas Narko, semoga menjadi keluarga samara... :)
Monday, December 8, 2014
Couple Trip: Malang, Batu, Bromo (Bagian 2: Kota Batu)
Kota Batu memang layak disebut sebagai kota wisata. Selain keindahan alam dan kesejukannya, sekarang kota Batu juga memiliki banyak tempat wisata. Jenis wisata yang ditawarkan pun beragam, mulai dari wisata alam, taman bunga, taman bermain, bahkan museum.
Setelah berkendara sekitar satu jam, kami tiba di hotel Sumber, yang sebelumnya telah kami booking lewat agoda. Meskipun hotel ini terletak agak masuk ke dalam, di antara perumahan warga, namun dari halamannya kita dapat melihat pemandangan yang luar biasa indah. Pegunungan sambung menyambung dan kerlip cahaya lampu kota terlihat dari balkon kamar kami. Lagi-lagi kami sepertinya menjadi satu-satunya tamu di hotel tersebut. Jadilah hotel ini bagaikan villa pribadi saja dan bebas berenang di kolam seperti privat swimming pool. Hehehe..
Sumber Hotel, Kota Batu
Agenda sore itu kami akan jalan-jalan sore di alun-alun Batu kemudian ke Batu Night Spectacular untuk membuktikan seberapa spektakulernya :p
Alun-alun Kota Batu
Sekitar pukul 5 sore kami tiba di alun-alun kota Batu. Jujur alun-alunnya memang bagus, berkonsep taman bertema dengan bianglala raksasa di tengahnya. Dari atas bianglala ini pemandangan kota Batu dapat terlihat, tetapi sayangnya sewaktu kami ke sana bianglala sedang rusak :(
Alun-alun ini memiliki beberapa bangunan dengan ikon kota Batu, yaitu
air mancur dengan lambang buah apel, serta bangunan berbentuk apel dan
stoberi raksasa. Selain itu, taman juga dihiasi dengan lampion-lampion
berbentuk hewan, seperti sapi dan kelinci. Mungkin hewan-hewan tersebut
merupakan salah satu ciri khas kota Batu yang memiliki banyak peternakan
sapi.
Di sekitar alun-alun cukup banyak penjual makanan sehingga kita tidak takut susah mencari makan. Sepertinya alun-alun ini memang menjadi tujuan wisata dan tempat bersantai bagi wisatawan maupun warga kota Batu karena semakin sore semakin banyak pengunjung yang datang. Di seberang alun-alun terdapat Masjid Raya Kota Batu yang besar dan megah. Pokoknya daerah alun-alun ini memang menjadi pusatnya kota Batu.
Batu Night Spectacular
Mungkin sekarang wisata lampion sudah ada di beberapa kota di Indonesia, salah satunya Batu Night Spectacular (BNS) ini. Dalam satu kawasan BNS, ada beberapa bagian selain taman lampion, yaitu taman bermain, pasar malam, rumah hantu, dan rumah kaca. Konsepnya gabungan antara taman wisata dengan pasar malam.
Mungkin sekarang wisata lampion sudah ada di beberapa kota di Indonesia, salah satunya Batu Night Spectacular (BNS) ini. Dalam satu kawasan BNS, ada beberapa bagian selain taman lampion, yaitu taman bermain, pasar malam, rumah hantu, dan rumah kaca. Konsepnya gabungan antara taman wisata dengan pasar malam.
Kami tiba di BNS sekitar pukul 7 malam, setelah sebelumnya kami sholat Maghrib di Masjid Raya Kota Batu, di seberang alun-alun. Jarak dari alun-alun ke BNS tidak terlalu jauh, sekitar 10 menit naik motor. Tiba di BNS ternyata pengunjung tidak terlalu ramai, lagi-lagi inilah enaknya kalo liburan bukan pada musim libur panjang, hehe.. Tiket masuk per orang Rp20.000, itu hanya untuk masuk kawasan BNS. Untuk naik wahana permainannya kita harus membayar tiket tambahan lagi.
Saya dan suami hanya mencoba naik sepeda kayuh udara saja karena kurang tertarik dengan permainan-permainan lainnya. Setelah naik sepeda kayuh, kami langsung masuk ke Taman Lampion dengan menmbayar tiket Rp 12.500 per orangnya.
Taman Lampion di BNS cukup luas, dengan ratusan bentuk dan puluhan tema lampionnya. Ada tema kartun-kartun terkenal, taman, dan bangunan-bangunan. Suasananya juga cukup enak buat jalan-jalan malam.
Songgoriti
Hari kedua di Kota Batu sebenarnya kami ingin wisata ke beberapa tempat, namun karena waktu yang terbatas kami hanya berkunjung ke Kusuma Agro saja. Sebelum rencana dilaksanakan, pagi harinya kami penasaran ingin berkeliling ke daerah sekitar hotel dengan mengendarai motor.
Untungnya lokasi hotel kami strategis sehingga mudah kemana-mana. Jalan-jalan pagi kami melewati Jatim Park 1 dan Jatim Park 2, serta Museum Angkut, namun kali ini kami belum sempat mampir karena tempat wisata baru dibuka sekitar pukul 12 siang.
Setelah jalan beberapa lama, kami tiba di daerah yang bernama Songgoriti. Ternyata di wilayah ini banyak terdapat villa. Selain itu, di Songgoriti juga terdapat candi, pemandian air panas, wisata paralayang, serta peternakan sapi. Ingin mencicipi produk dari peternakan sapi langsung, kami pun mampir sebentar di inkubator agribisnis yang ada di pinggir jalan. Ternyata di bawahnya langsung ada peternakan sapi yang produknya dijual di tempat ini. Produknya beragam, mulai dari susu, nugget, permen susu, yoghurt, sampai stik susu.
Saturday, December 6, 2014
Couple Trip: Malang, Batu, Bromo (Bagian 1: Kota Malang)
Sudah lama sebenarnya saya ingin wisata
ke kota Malang dan Bromo, namun baru bulan November kemarin saya dan
suami bisa kabur sebentar dari kesibukan kantor untuk mengambil cuti dan
jalan-jalan. Kali ini tujuan kami adalah menjelajah kota Malang, Batu,
dan terakhir ke Gunung Bromo.
Kira-kira
dua minggu sebelum keberangkatan kami baru mencari tiket kereta. Kami
naik kereta Mataramaja, yang ekonomis alias murah saja ;) Alhamdulillah
tiket masih tersedia, meskipun agak kecewa karena pulangnya kami harus
beli dua tiket untuk kereta yang sama dengan keberangkatan Malang-Solo
Jebres dan Solo Jebres-Jakarta karena tiket langsung Malang-Jakarta
sudah habis terjual. Sebenarnya aneh, padahal kursi yang kami duduki
dari Malang, yang seharusnya diisi penumpang lain dari Solo, justru
tetap kosong sampai ke Jakarta :(
Kami
berangkat dari rumah naik motor ke Stasiun Senen, selanjutnya motor
kami titipkan di penitipan selama 4 hari kami pergi dengan biaya
penitipan Rp5.000 per hari. Sampai di stasiun Pasar Senen sekitar pukul 2
siang sehingga waktu agak longgar untuk makan siang dulu sambil
menunggu kedatangan kereta Matarmaja.
Tidak berbeda jauh dari jadwal, mendekati pukul 15.30, kereta Matarmaja pun tiba dan siap-siap untuk berangkat. Oh iya sekedar tips dari saya, jika memesan tiket kereta ekonomi lewat website KAI, jangan terkecoh ketika memilih tempat duduk. Meskipun dalam gambar susunan tempat duduk adalah AB (2 tempat duduk) dan CDE (3 tempat duduk), namun kenyataannya susunan yang benar adalah ABC-DE. Jadi yang ingin duduk berdua saja, pilihlah kursi DE, sedangkan yang bertiga pilih kursi ABC.
Kami tiba di Stasiun Malang sekitar jam 7 pagi, agak ngaret dari jadwalnya. Kami pun langsung keluar Stasiun untuk menunggu orang yang mengantarkan motor yang akan kami sewa. Setelah kami mendapat motor sewaan, tujuan pertama adalah Masjid Agung kota Malang. Suami mengajak kami ke Masjid dulu untuk sholat Dhuha, numpang bersih-bersih, cuci muka (atau mandi), berhubung kami hari pertama kami booking hotel di daerah Batu dan baru boleh check in jam 12 siang.
Dilarang (numpang) Mandi!
Tapi sayangnya kami kecewa ketika tiba di Masjid Agung kami disambut seorang satpam di gerbang yang sangat ketus menanyakan kami mau ngapain. Sebegitu mencurigakankah sepasang suami istri datang ke masjid dengan menggembol tas ransel besar? :( Suami saya pun menjawab mau sholat Pak, kemudian kami masuk.
Ternyata, di toilet dan tempat wudhu saya bertemu dengan yang lebih galak dari satpam di depan. Ketika saya bertanya dimana toilet kepada seorang Ibu yang sedang membersihkan tempat wudhu, Ia langsung berkata "Ora adus yo Mba.. " (jangan mandi ya mba) Huhu.. sebeeel.. sampai ketika saya mau masuk toilet, saya disuruh meletakkan tas ransel saya di luar pintu karena Ia takut kalo saya mandi. Jadilah saya hanya cuci muka saja, itu pun buru-buru karena si Ibu memanggil-manggil saya, "Mba.. ora adus yoo.." :(
Masjid Agung Kota Malang
Bakso Bakar Pak Man
Setelah sholat Dhuha dan istirahat sebentar di Masjid, kami pun melanjutkan perjalanan untuk wisata kuliner ke bakso bakar Pak Man. Dengan berbekal google map, kami berhasil menemukan tempat kuliner yang sudah lumayan terkenal ini. Ternyata letaknya di komplek perumahan, dekat SMP. Meskipun begitu, sepertinya bakso bakar Pak Man ini menjadi salah satu tempat nongkrong dan kumpul-kumpul anak muda di Malang.
Selain bakso bakar, Pak Man juga menyediakan bakso kuah, mungkin di Jakarta inilah yang sering disebut bakso Malang. Kami mencoba kedua menunya. Bakso kuahnya enaak, tapi bakso bakarnya super pedeeeees sampai yang kerasa cuma pedesnya aja. :'D
Harga bakso bakarnya per porsi Rp20.000 isi 10 buah, dan bakso kuah Rp2.000 per buahnya. Lumayan mahal, tapi rasa cukup menantang bagi yang suka pedas.
Toko Oen
Ini dia yang paling saya tunggu dari jauh-jauh hari rencana ke kota Malang: mencoba es krim di Toko Oen. Penasaran rasanya sejak saya lihat liputannya di tv. Ternyata letak toko yang menjual es krim hand made dari zaman Belanda ini tidak terlalu jauh dari stasiun, hanya sekitar 5 menit. Letaknya juga pas di pinggir jalan, shingga sangat mudah ditemukan.
Ketika sampai di Toko Oen, kami merupakan satu-satunya pengunjung yang datang saat itu, maklum lah karena kami datang pagi hari di hari kerja. Toko pun kelihatannya belum lama buka, jadi petugas masih bersiap-siap. Beberapa saat kemudian barulah datang pengunjung lainnya.
Toko Oen, Kota Malang
Interior Toko Oen memang orisinil masih
merupakan interior jaman Belanda. Ruangannya, kursi dan meja, bahkan
seragam petugasnya pun seperti suasana tempo dulu. Bahkan menurut saya,
seragam mbak-mbaknya itu seperti seragam yang ada di cerita-cerita jaman
Belanda dulu. Hehe..
Selain
es krim, Toko Oen juga menyediakan minuman dan roti. Harga mulai 15
ribu sampai puluhan ribu. Saat itu saya memesan banana split yang
harganya Rp40.000 per porsi (dimakan berdua, hahaha). Rasanya ternyata
memang enak.. mirip seperti es krim Ragusa di Jakarta. Terasa susunya, tapi tidak kental. Tekstur butiran esnya juga terasa sekali. Enak pokoknya! :)
Setelah mencicipi beberapa kuliner di kota Malang, saatnya kami bersiap-siap untuk menuju kota Batu karena penginapan hari pertama kami ada di sana. Jarak Malang ke Batu tidak terlalu jauh sehingga masih dapat kami tempuh menggunakan motor sewaan dalam waktu sekitar satu jam saja :)
Wednesday, September 10, 2014
September Ceria
Setelah akhir bulan kemarin kami disibukkan oleh urusan pindahan, alhamdulillah akhirnya terhitung mulai tanggal 31 Agustus 2014 kami resmi tinggal di rumah baru. Meskipun masih berantakan, sedikit demi sedikit mulai kami susun barang-barang seabreg yang semula kami kardusin. Baju-baju mulai agak rapi dimasukkan ke lemari, piring dan panci sudah tersusun di dapur, tinggal beberapa barang campuran aja yang masih tersisa satu kardus di kamar belakang, sisanya sudah dinaikkan ke gudang di loteng atas.
Akhir pekan kemarin kami sudah bisa mulai agak santai. Saya kembali menjalankan rutinitas kulakan jilbab di Sabtu pagi dan suami bisa main lagi dengan komputernya :p Pojokan ruang tamu pun sementara sudah saya sulap menjadi "butik mini" Laiqashop. Tiap malamnya sepulang dari kantor "butik mini" ini berantakan karena jilbab-jilbab yang saya gelar, baik itu untuk dipacking, atau cuma dipajang dan difoto stok yang masih tersedianya. Mudah-mudahan "butik mini" ini akan segera jadi butik beneran dan buka menjadi toko offline, bukan cuma online.
Oh iya, minggu kemarin saya dan suami menyempatkan diri mampir ke tukang tanaman yang banyak berada di sepanjang jalan Graha Raya. Menurut orang-orang harga tanaman hias di sana murah-murah dan kebetulan dari rumah ke Graha Raya cukup dekat, hanya sekitar 15 menit naik motor. Jadilah kami ke sana sore-sore, sekitar jam 5. Sampai di sana kami mampir ke beberapa toko tanaman di sepanjang jalan dan memutuskan untuk fokus ke satu toko yang koleksi tanamannya kelihatan cukup lengkap.
Ternyata memang benar harga tanaman di sana sangat murah. Bunga soka mini yang biasanya berharga Rp10.000-Rp12.500, di Graha Raya hanya Rp5.000-Rp7.000 saja. Tanaman-tanaman kecil untuk pembatas hanya Rp1.000 saja! Wow.. Sedangkan tanaman hias lain bervariasi mulai dari Rp5.000 sampai puluhan ribu. Akhirnya saya membeli tanaman walisongo seharga Rp7.500, dua tanaman melati-melatian seharga Rp5.000, dan 10 buah tanaman kecil seharga Rp1.000. Sebenarnya mau melihat-lihat lebih lama, namun karena sudah Maghrib kami terpaksa membeli seadanya dulu dan langsung pulang ke rumah.
Sampai di rumah tanaman yang agak besar saya pindahkan ke pot langsung, sedangkan yang kecil-kecil belum sempat saya pindahkan dari tempat plastiknya (----sampai sekarang----) karena sudah terlalu malam. Sementara tanaman-tanaman kecil hanya saya susun dan saya letakkan di bawah tanaman pucuk merah biar tidak terlalu kepanasan pada siang hari.
Yang paling membahagiakan bulan ini, selain mulai menempati rumah baru, yaitu lahirnya keponakan kedua saya. Ya, Si Firos akhirnya punya adik lai-laki :D Hari Selasa, 09 September 2014, si bayi Alhamdulillah lahir dengan sehat dan selamat secara cesar. Welcome to the world, keponakan kedua yang belum diberi nama, lucuuuuuuu bangeeeeeet.:* Akur-akur yaa sama kakak Firos. Semoga kalian cepet punya sepupu dari Tnte Ika yaa :)
(Sekian dulu, nulisnya buru-buru karena udah dipanggil senam sore di kantor.. :D)
Wednesday, September 3, 2014
Kisah Dibalik Rumah Cendana
Beberapa minggu sebelum hari pernikahan, waktu itu kami mulai mencari-cari rumah kontrakan untuk tinggal. Suami tidak mau tinggal serumah dengan orangtua saya, agar lebih mandiri. Saya manut aja, karena saya pikir dengan pisah rumah dari orangtua kami akan belajar untuk mandiri.
Salah syarat kontrakan rumah dari saya yaitu kalo bisa jangan kontrakan petak karena bingung jika ada keluarga datang dan menginap akan tidur dimana. Muter-muterlah suami ke sekitar PJMI, Pondok Safari, Ceger, sampai Jalan Bonjol. Ada beberapa nominasi rumah yang akan kami kontrak saat itu, salah satunya sebuah rumah berwarna pink di ujung tanjakan, Jalan Cendana, Pondok Safari.
Pertama kali dikirimkan foto-foto rumah tersebut, saya agak sedikit ragu. Kok dalamnya berantakan, kok udah tua rumahnya, kok kotor :( Tapi setelah diajak melihat langsung dari depan, hmm.. ya tidak terlalu buruk. Apalagi pemilik rumahnya mau merapikan bagian-bagian rumah seperti yang kami minta, antara lain mengecat dinding yang belum selesai dan memperbaiki plafon kamar.
Ternyata kami berjodoh dengan rumah itu. Rumah berwarna pink di ujung tanjakan, Jalan Cendana. Tempat pertama yang kami tuju setelah acara pernikahan kami selesai. Rumah tinggal pertama kami setelah menikah. Tempat kami pertama kali belajar berkeluarga. Tempat kami mengerjakan hal-hal yang masing-masing kami senangi: suami main game, saya ngemil dan tidur. Serta kami belajar membangun bisnis kami masing-masing, suami rapat dengan teman-teman bimbel, saya sibuk melipat jilbab-jilbab dagangan.
Rumah Cendana, Ika, dan Pamulak
06 Oktober 2013-31 Agustus 2014. Terimakasih Rumah Cendana yang telah memberikan segudang cerita untuk dikenang sampai kami kakek nenek nanti.
Wednesday, August 27, 2014
Mesin Jahit Impian
Entah ada hubungannya atau nggak dengan bakat turunan nenek saya yang dulu pernah jadi penjahit, dari kecil saya sudah suka dengan jahit-menjahit. Sekitar kelas 3 SD saya sudah bisa membuat baju barbie sendiri, meskipun dengan jahit tangan dan tanpa pola. Selain itu saya senang sekali setiap ikut orangtua saya ke tukang jahit karena saya bisa minta bahan sisa-sisa jahitan untuk dijadikan baju barbie :D
Beruntungnya saya ketika SMP mendapatkan pelajaran tata busana sebagai salah satu muatan lokal. Saya jadi pernah praktik membuat baju beneran, mulai dari rompi bolak-balik, celana pendek, sampai blus atasan, membuat pola, memindahkan pola ke kain, dan berbagai kegiatan jahit menjahit lainnya. Senangnya ketika itu hasil praktik saya diminta oleh Ibu Guru untuk contoh karena menurutnya paling rapi (padahal sebenernya banyak dibantuin mama juga sih jahitnya, hehehe..)
Entah kenapa akhir-akhir ini keinginan untuk punya mesin jahit muncul, mungkin gara-gara keseringan melihat onlineshop di facebook yang menjual mesin jahit portable. Setelah browsing sana-sini, keseringan sih mampir ke sini: www.bursamesinjahit.blogspot.com dan www.anekamesinjahit.com, saya jadi mulai tau jenis-jenis mesin jahit. Awalnya mungkin saya hanya tau butterfly, brother, dan singer, tetapi sekarang ada incaran baru mesin jahit yang saya mau: Janome LR 1122. Berbeda dari merk lain, Janome ini ternyata masih buatan Jepang, dan bodynya full besi, sedangkan merk lain kebanyakan bodynya fiber. Memang sih saya belum paham-paham amat masalah spesifikasi mesin jahit, tetapi hasil baca sana sini sepertinya mesin jahit ini yang paling pas dengan kebutuhan saya (halah..paling ujung-ujungnya cuma buat eksperimen aja :P).
LR1122 incaran saya
Tetapi eh tetapi, ternyata impian belum berjalan mulus semulus jalan tol JORR yang masih baru karena harga mesin jahit portable ternyata berjut jut, sedangkan duit di celengan belum mencukupi T_T. Berharap aja mudah-mudahan tiga huruf cair lagi bulan ini, atau dapet hadiah undian, atau si tuan suami bersedia membelikan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan ke-1 nanti. Huehehehe..
Janome Hello Kitty yang cuuuuuteeee bangeet, tapi sayangnya tipe ini nggak dijual di Indonesia
Tuesday, August 26, 2014
P.I.N.D.A.H.A.N. (Soft Launching)
Mungkin suami saya akan senyam-senyum ketika baca postingan ini (itu pun kalo dia masih ingat alamat blog saya). Dua minggu ini merupakan fase yang sangat penting bagi kami karena kami akan pindah rumah. Sebuah fase yang bikin capek, deg-degan, pusing, seneng, semua campur jadi satu. Alhamdulillah di bulan ke-10 usia pernikahan ini, kami akan pindah ke rumah baru, rumah milik kami.
Dengan ridho dari Allah, dan bermodal kenekatan, akhirnya kami berhasil membeli sebuah rumah mungil di Selatan Jakarta, 5 menit dari kampus kami dulu, dan 25 menit dari rumah orang tua saya. Jangan kira prosesnya ini singkat dan kilat. Diawali dengan "ngomporin" suami saya sekitar akhir tahun lalu, dan berlanjut malah dia yang jadi "kompor" untuk beli rumah. Kami pun keliling-keliling daerah Bintaro, Ceger, Ciputat berbekal iklan-iklan perumahan baru ataupun rumah yang dijual dari toko bagus, rumahdijual.com, kaskus, dan lain-lain. Akhirnya malah kami menemukan perumahan baru yang jaraknya hanya sekitar 700 meter dari rumah kontrakan kami.
House of Laika (Pamulak dan Ika)
Setelah menemukan rumah yang cocok, mulailah kami mikir gimana
caranya bayar ini rumah, kali aja bisa bayar pake daun :p Kebanyakan sih
Tuan suami yang mikir sampai mempelajari sistem KPR dari beberapa bank,
sedangkan saya cuma nyemangatin aja, kadang-kadang ngerecokin juga
siih..hehehe..
Setelah mantap, kami pun akhirnya melakukan akad kredit sekitar bulan April, dan rumah kami pun mulai dibangun. Emang dasar pasangan yang banyak maunya, kami nggak mau desain rumah sesuai default dari developer, kami gambar sendiri (pake microsoft excel :D) denah rumah yang kami inginkan. Untung aja developernya memahami hasrat pasangan muda ini...... -__-
Singkat cerita, setelah hampir tiap minggu kami tengokin, dan dengan kerjasama yang baik dari Pak Mandor serta para tukang, awal bulan ini rumah kami telah selesai dan berdiri dengan kokoh. Awalnya kami akan pindahan tanggal 24 Agustus kemarin, tapi karena beberapa hal pindahan resmi pun diundur jadi minggu besok, tanggal 30 Agustus, yang kebetulan bersamaan dengan ulang tahun si suami yang cerewet baik hati.
Meskipun pindahan resmi baru minggu besok, kami tetap bersih-bersih dan mengadakan acara kecil-kecilan khusus keluarga inti sebagai tanda kami pindah. Mama saya memasakan nasi kuning lengkap dan kami makan bersama pertama kalinya di rumah ini.
24 Agustus 2014, softlaunching Ika dan Pamulak pindah ke rumah baru. Doakan kami semoga betah, aman, selamat, sejahtera, dan segera mengisi rumah dengan para krucils yaaa.. :D
(Coming soon: Pindahan, Grand Launching)
Dengan ridho dari Allah, dan bermodal kenekatan, akhirnya kami berhasil membeli sebuah rumah mungil di Selatan Jakarta, 5 menit dari kampus kami dulu, dan 25 menit dari rumah orang tua saya. Jangan kira prosesnya ini singkat dan kilat. Diawali dengan "ngomporin" suami saya sekitar akhir tahun lalu, dan berlanjut malah dia yang jadi "kompor" untuk beli rumah. Kami pun keliling-keliling daerah Bintaro, Ceger, Ciputat berbekal iklan-iklan perumahan baru ataupun rumah yang dijual dari toko bagus, rumahdijual.com, kaskus, dan lain-lain. Akhirnya malah kami menemukan perumahan baru yang jaraknya hanya sekitar 700 meter dari rumah kontrakan kami.
House of Laika (Pamulak dan Ika)
Setelah mantap, kami pun akhirnya melakukan akad kredit sekitar bulan April, dan rumah kami pun mulai dibangun. Emang dasar pasangan yang banyak maunya, kami nggak mau desain rumah sesuai default dari developer, kami gambar sendiri (pake microsoft excel :D) denah rumah yang kami inginkan. Untung aja developernya memahami hasrat pasangan muda ini...... -__-
Singkat cerita, setelah hampir tiap minggu kami tengokin, dan dengan kerjasama yang baik dari Pak Mandor serta para tukang, awal bulan ini rumah kami telah selesai dan berdiri dengan kokoh. Awalnya kami akan pindahan tanggal 24 Agustus kemarin, tapi karena beberapa hal pindahan resmi pun diundur jadi minggu besok, tanggal 30 Agustus, yang kebetulan bersamaan dengan ulang tahun si suami yang
Pasang gorden duluuu...
Meskipun pindahan resmi baru minggu besok, kami tetap bersih-bersih dan mengadakan acara kecil-kecilan khusus keluarga inti sebagai tanda kami pindah. Mama saya memasakan nasi kuning lengkap dan kami makan bersama pertama kalinya di rumah ini.
Makan nasi kuning bikinan Mama, pertanda kami udah pindah :')
24 Agustus 2014, softlaunching Ika dan Pamulak pindah ke rumah baru. Doakan kami semoga betah, aman, selamat, sejahtera, dan segera mengisi rumah dengan para krucils yaaa.. :D
(Coming soon: Pindahan, Grand Launching)
Subscribe to:
Posts (Atom)



















