Pages

Tuesday, May 29, 2012

Jessica Sanchez - Change Nothing Lyrics and Video



Everyday I’m waking up to deja vu
Someone it’s always telling me
Not to stick with you
Could it be the nights we spent to fixing us
I never thought that we were real, that messed up

Should have shut my mouth and kept it all to myself
Cause now they've got me feeling
I should be with somebody else

They say we don't fit together
I could do better
There's always something
They don't know the hell we've been through
Cause when you hold me like you do
That's when I wanna change nothing

There were times when we would kiss with bitter lips
It don't matter when the good ones taste like this

Maybe we were broken more than once or twice
What we got bad or not I'm not gonna compromise

I should have never let that words get under my skin
Cause all I ever wanted was to find a way through this

They say we don't fit together
I could do better
There's always something
They don't know the hell we've been through
Cause when you hold me like you do
That's when I wanna change nothing
That's when I wanna change nothing

Should have shut my mouth and kept it all to myself

No, no, ooooh, yeah...

They say we don't fit together
I could do better
There's always something
They don't know the hell we've been through
Cause when you hold me like you do
That's when I wanna change nothing

That's when I wanna change nothing
That's when I wanna change nothing
That's when I wanna change nothing
Oh that's when I wanna change nothing...




Source: Click here

Sunday, May 20, 2012

Quotes Favorit dari Film Hugo

Gambar diambil dari sini

"Everything has a purpose, even machines. Clocks tell the time, trains take you places. They do what they're meant to do. Maybe it's the same with people. If you lose your purpose, it's like you're broken." - Hugo Cabret

"I'd imagine the whole world was one big machine. Machines never come with any extra parts, you know. They always come with the exact amount they need. So I figured if the entire world was one big machine, I couldn't be an extra part. I had to be here for some reason. And that means you have to be here for some reason too." - Hugo Cabret




Friday, May 18, 2012

Kisah Anak Magang TPT dan Orang Bule

Sudah hampir tiga bulan saya menyandang status sebagai anak magang, anak On the Job Training (OJT), atau pegawai diperbantukan yang sedang menunggu SK CPNS keluar, lebih tepatnya. Dalam proses OJT ini, saya dan teman-teman yang bertugas di KPP Pratama Jakarta Kebon Jeruk Satu diwajibkan untuk rolling ke tiap seksi setiap 3 hari sekali. Memang dalam proses OJT ini kami dituntut untuk aktif menggali ilmu sebanyak-banyaknya. Caranya bisa dengan bertanya pada pegawai-pegawai, maupun praktek langsung.

Pada beberapa seksi, anak-anak OJT kadang tidak mendapat kesempatan praktek langsung, namun di beberapa seksi lainnya kami bahkan mendapat tugas pokok menggantikan posisi yang kosong karena tidak ada pegawai. Salah satu posisi kosong tersebut yaitu bagian TPT (Tempat Perlayanan Terpadu) yang mengurus NPWP. TPT ini bisa disebut sebagai "front liner"nya KPP karena langsung berhadapan dengan Wajib Pajak setiap harinya.

Pengalaman menjadi petugas TPT cukup beragam. Pernah suatu kali teman ada Wajib Pajak yang marah-marah kepada teman saya sampai Ia teriak-teriak memaki. Saya yang pada saat itu bertugas di sampingnya sampai kaget dan diam seribu kata. Jadi petugas TPT itu memang harus memiliki kesabaran ekstra, menurut saya. 

Namun selain pengalaman yang kurang menyenangkan, ada juga pengalaman yang lucu terjadi ketika menjadi petugas TPT bagian NPWP. Saat itu saya kebagian menjaga loket NPWP sendirian karena teman saya sedang ke masuk ke dalam ruangan. Tiba-tiba ada seorang Bapak Warga Negara Asing yang datang menghampiri loket. Wah saya sudah seneng aja, ngebayangin bahwa saya akan mempraktekkan bahasa Inggris langsung dengan orang bule. Kebetulan beberapa minggu sebelumnya ada juga orang Jepang yang datang ke loket NPWP. Orang Jepang tersebut tidak bisa berbicara menggunakan bahasa Indonesia sehingga pegawai petugas NPWP saat itu berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris. Pegawai senior saya itu memang cukup fasih berbahasa Inggris karena sudah beberapa kali berpergian ke luar negeri. Mengingat hal tersebut, saya jadi siap-siap kira-kira orang bule yang datang ini akan bertanya mengenai apa. Saya harus siap menjelaskan.

Agak deg-degan sedikit (oke ini lebay) karena terakhir kali saya bicara dengan orang asing langsung yaitu sewaktu di Green Canyon. Saya berbicara dengan turis dari Kanada karena kebetulan satu perahu dengan mereka. Oke, kembali ke TPT, si Bapak menghampiri, dengan terbata-bata dan aksen bahasa Inggris Ia berkata, "For...mu...lir... S...S...P...??" Saya: "..????..." Guuubbraaakk!! Ternyata Ia hanya menanyakan dimana mengambil formulir SSP. -_____-" Memang sepertinya Ia tidak lancar berbahasa Indonesia, namun dengan hanya mengatakan formulir SSP, saya sudah mengerti maksudnya. Akhirnya saya jawab dengan bahasa Indonesia saja "Di Pak Satpam, Pak", Ia pun tersenyum dan langsung menuju tempat Pak Satpam untuk mengambil formulir SSP.


Demikian salah satu pengalaman jadi petugas loket NPWP di TPT. Mungkin saya harus ditempatkan di KPP Penanaman Modal Asing dulu kalo mau sering praktek berbicara langsung dengan Warga Negara Asing. Hehehehe...

Petualangan 1 Hari: Solo dan Jogja (Part 2, The End)

Posting sebelumnya: Dengan rencana kurang dari 3 hari sebelumnya, kami pergi berlibur ke Solo dan Jogja. Dalam waktu 1 hari kami pulang pergi Jakarta-Solo-Jogja-Jakarta. Dimulai dari Keraton Solo untuk melihat kebo bule, sampai kami melanjutkan perjalanan dari Solo ke Jogja dengan kereta api dari Stasiun Solo Balapan ke Stasiun Tugu.

Setelah menempuh perjalanan naik Prambanan Express selama 1 jam dari Solo, akhirnya kami tiba di Stasiun Tugu Jogjakarta. Ternyata di sana mobil dan supir yang telah kami pesan sudah menunggu, akhirnya kami pun langsung berangkat ke tujuan selanjutnya, yaitu Masjid Gede Kauman, Jogjakarta. Di sana kami melaksanakan sholat Dzuhur yang dijama’ dengan Ashar. Setelah itu kami melanjutkan ke Malioboro dan Pasar Beringharjo untuk bertemu keluarga teman saya yang menunggu di sana.

Karena waktunya yang benar-benar sempit, alhasil saya tidak sempat jalan-jalan dan belanja di Malioboro, hanya sempat belanja di Beringharjo. Dan tepat pukul 15.30 kami berangkat ke tujuan selanjutnya bersama keluarga teman saya, yaitu ke Pantai Parangtritis.

Ternyata jarak dari Jogja ke Parangtritis cukup jauh. Parangtritis sendiri sudah masuk ke Kabupaten Bantul. Akan tetapi, meskipun jaraknya yang cukup jauh, perjalanan hanya memakan waktu 45 menit karena tentu saja jalan di sana tidak ada macet seperti di Jakarta. 



Ini adalah kunjungan pertama saya ke Pantai Parangtritis. Ternyata ombaknya benar-benar besar, seperti yang sering diceritakan orang. Karena itu, pengunjung tidak bebas berenang di laut, hanya bermain-main di tepinya saja. Pemandangan tebing di tepi laut lepasnya sangat indah. Benar-benar pantai!

Seperti biasa, ritual saya setiap mengunjungi pantai: duduk ngedeprok di pasir seperti penyu. Hehehe... Di Parangtritis kebanyakan pengunjung hanya menikmati pemandangan, dengan duduk-duduk, naik delman, atau menyewa ATV. Itu pula yang kami lakukan, kami menyewa ATV untuk berkeliling pantai berpasir putih tersebut. Harga sewa ATV Rp 50.000 per 30 menit. Cukup mahal sih, tapi puas juga keliling-keliling.

Sayangnya ketika kami ke sana langit agak berawan sehingga sunsetnya terhalang dan tidak kelihatan dengan sempurna. Setelah puas kotor-kotoran di pantai, saya mandi dan mengganti pakaian serta sendal jepit yang baru dibeli di pinggir pantai.


Sebelum berangkat ke Bandara di Jogja, kami sempat beli makan di pinggir pantai. Kira-kira pukul 18.15 kami segera berangkat pulang agar tiba di Bandara sebelum pukul 19.30. Agak khawatir juga takut telat sampai di Bandara karena waktunya sempit. Tapi sekali lagi kekhawatiran dapat ditepis karena jalanan di Jogjakarta yang lancar jaya, tanpa macet. :D

Beberapa menit sebelum pukul 19.30 kami tiba di Bandara, langsung check in untuk penerbangan ke Jakarta pukul 20.00. Sambil menunggu keberangkatan, kami pamitan dengan keluarga teman saya. Pukul 20.00 kurang beberapa menit penumpang dipanggil untuk bersiap-siap dan kami pun pulang ke Jakarta dengan jadwal tepat waktu. See you next time Jogja... :D






Pesawat tiba di bandara sekitar pukul 21.30, dan kami tiba di rumah pukul 23.00. Perjalanan yang sangat melelahkan, tapi menyenangkan. Dan jadwal tanpa delay membuat perjalanan dilaksanakan sesuai run down yang telah dibuat teman saya sebelumnya. Thank you, Cong! hehehehe

Sunday, April 15, 2012

Petualangan 1 Hari: Solo dan Jogja

Assalamu'alaikum! hehehe.. Setelah cukup lama nggak posting, akhirnya saya membulatkan tekad untuk nulis lagi...


Pada dasarnya saya suka jalan-jalan, kemana aja, yang deket, yang jauh, dalam kota, luar kota, desa, kota, pasar, sungai, pantai, semuanya suka. Tapi, dalam hal jalan-jalan ini seringkali saya menemukan kendala yaitu susahnya dapet izin dari orangtua kalo mau pergi keluar kota, apalagi jika harus menginap. Jadi kurang lebih syarat-syarat yang harus saya penuhi kalo mau jalan-jalan keluar kota yaitu: 1. Harus jelas sama siapa 2. Harus jelas kemana, naik apa 3. Usahakan nggak nginep (kecuali memang ada kerabat atau rumah teman di daerah itu) Rempooong yeeee... :(


Tapi entah kenapa tiba-tiba kemarin ada keajaiban, izin orangtua saya keluar dengan lancar saat saya bilang mau ke jogja. Jadi, awalnya ada teman saya, anak Klaten (yang belum tau Klaten di mana, Klaten itu salah satu kabupaten yang terletak di antara Solo dan Jogja) berencana untuk pulang kampung akhir pekan ini. Karena tidak punya banyak waktu selain weekend, dia berencana pulang hanya 1 hari dan bertemu keluarga di Jogja. Nah, kebetulan minggu kemarin ada promo tiket pesawat Lion Air, jadilah Ia berencana pulang naik pesawat pada hari Sabtu pagi.


Tiba-tiba hari Rabu malam temen saya sms, katanya mau ikut nggak ke Jogja bareng dia, awalnya saya pesimis bakal dapet izin, eh ternyata dugaan saya salah, karena orangtua ternyata mengizinkan, mungkin karena teman saya langsung yang bilang ke orangtua saya dan juga karena perjalanan ke Jogja ini direncanakan hanya 1 hari, tanpa menginap, berarti persyaratan keluar izin terpenuhi. Berangkat pagi dari Jakarta dan pulang lagi malam harinya. Yeaaaayyy! Jogjaaaa saya datang lagi \(^.^)/

***

Pada hari Sabtu, sesuai dengan rencana, kami berangkat pagi-pagi dari Jakarta. Teman saya tiba di rumah saya pukul 05.30, setelah sarapan dan siap-siap, kami berangkat ke bandara pukul 05.45 naik sepeda motor. Tiba di bandara sekitar pukul 06.30, cukup cepat karena jalanan Sabtu pagi sangat lancar, apalagi kami lewat jalan tol (nah loh, bingung kan naik sepeda motor tapi lewat tol :p). Kami akan berangkat dengan penerbangan pukul 8 pagi sehingga masih ada waktu sekitar 1,5 jam untuk menunggu.


Jam 8 teng penumpang dipanggil, alhamdulillah jadwalnya tepat waktu, jadi rundown acara yang dibuat nggak molor deh.. hehe.. Cuaca cerah, jadwal yang tepat waktu, aah.. paling seneng deh kalo begini. Bye Jakarta... :)

***

Dari Jakarta ke Solo, Menengok Kebo Bule


Pukul setengah 10 kami tiba di Solo. Ya, sesuai rencana memang kami akan jalan-jalan di Solo dulu sebelum ke Jogja. Ternyata partner perjalanan saya kali ini sudah mempersiapkan betul segala sesuatunya, sampai ketika kami tiba di bandara Solo ternyata Ia sudah menghubungi temannya di Solo untuk meminjam sepeda motor. Asiiiiik.... Keliling kota Solo secara kilat dalam waktu 1,5 jam naik sepeda motor, berangkaaat :D


Tempat yang kami kunjungi di Solo yaitu Keraton. Karena Keraton letaknya di kota Solo, sedangkan bandara Adi Sumarmo letaknya di Boyolali, kami harus menempuh perjalanan sekitar setengah jam. Setengah jam di sana cukup jauh, tidak seperti di Jakarta yang macet, setengah jam hanya untuk menempuh 7 km -__-.


Perjalanan ke Keraton sangat menyenangkan, jadi tidak terasa lama. Kami tiba di Keraton sekitar pukul 11. Bangunannya kuno tapi cukup terawat. Sekeliling Keraton dibatasi tembok tinggi. Untuk masuk ke kawasan Keraon ini tidak dipungut biaya, kecuali jika ingin masuk ke museumnya.


Tiba di gerbang Keraton saya cukup terpukau dan menikmati arsitektur bangunannya. Sampe tiba-tiba si partner perjalanan saya tidak kunjung memberhentikan sepeda motor. Dan tebak, dia mengajak saya kemana? Ke tempat kebo bule -___-


Ya, kebo bule adalah kerbau-kerbau peliharaan keluarga Keraton yang dianggap keramat dan dikenal dengan nama Kyai Slamet. Tapi ternyata kandang kebo bule yang ditunjukkan teman saya kosong, dia pun bertanya ke orang-orang di mana kebo bulenya sekarang, ternyata tempatnya ada di kandang di bagian belakang Keraton, kami pun menghampiri ke sana.


Ketika tiba di tempat kebo bule yang ditunjukkan, ternyata mereka sedang berkubang di lumpur, jadi nggak keliatan deh warna bule (keputih-putihan) kulit kerbaunya. Well, jadi teman saya mengajak ke Keraton Solo ini cuma buat menengok kebo bulenya? -__-"



***

Setelah berfoto dengan kebo bule, kami pun ke bagian depan keraton untuk melihat-lihat. Ternyata kami boleh juga berfoto dengan para abdi dalem atau ajudan keraton Solo. Mereka adalah orang-orang yang setia mengabdi pada Keraton Solo. Untuk berfoto dengan para abdi dalem ini, kita diminta untuk membayar seikhlasnya.




***

Mengirup Udara Klaten


Sekitar pukul 11, kami pergi dari Keraton untuk menuju Stasiun Solo Balapan, mengembalikan sepeda motor, dan naik kereta ke Jogjakarta. Sayangnya jadwal agak mundur, kami ketinggalan kereta yang berangkat pukul 11.30 sehingga terpaksa naik kereta selanjutnya pada pukul 12.30.



Kereta Solo ke Jogja bernama Prambanan Ekspress. Tiketnya Rp 10.000 sampai ke Jogja. Kereta ini juga berhenti di stasiun Klaten, akan tetapi teman saya tidak turun karena sudah janjian dengan keluarga untuk bertemu di Jogja. Alhasil, untuk mengobati kerinduan pada kampung halaman, Ia hanya pergi ke arah pintu kereta ketika kereta berhenti di Stasiun Klaten, dengan kepala melongok keluar kereta dan Ia pun......menghirup udara Klaten :D




Bersambung......

Thursday, March 22, 2012

Kenapa Itawakitsumaki?


Kenapa Itawakitsumaki? atau mungkin lebih tepatnya apa itu itawakitsumaki? atau siapa itu itawakitsumaki? Ah, bagi saya judul tidaklah begitu penting.

Mungkin ada teman-teman yang bertanya kenapa alamat blog ini Itawakitsumaki? Kenapa username twitter saya @itawakitsumaki? Mungkin, mungkin loh yaaa... ada juga yang mengira itawakitsumaki itu nama ke-sok-jepang-jepangan saya. Hehehe...

Jadi begini awal mulanya. Sejak sekitar kelas 5 SD, saya iseng membalik nama saya, membacanya dari belakang, Ika Mustikawati -> Itawakitsumaki. Nah! Sejak saat itu, saya suka iseng pake nama ini. Kalo disingkat jadi Kitsu Chan (ini main-maninan waktu jaman SMP).

Sebenarnya ada satu alasan mengapa saya memakai Itawakitsumaki jadi alamat blog dan username-username saya, yaitu karena nama Ika Mustikawati ternyata pasaran alias banyak banget orang yang bernama Ika Mustikawati. T__T Jadi, mau nggak mau seringkali username Ika Mustikawati itu udah ada yang memakai, baik untuk email, twitter, atau username lain yang sifatnya unik.

Demikianlah, akhirnya Itawakitsumaki jadi sering saya pakai. Ada temen yang udah lama ngeh kalo ini merupakan nama saya yang dibalik atau dibaca dari belakang. Tapi ada juga yang suka mengira ini nama kejepang-jepangan. Bukan bahasa Jepang, Itawakitsumaki=Ikamustikawati.


Hehehehe :D

Sunday, January 22, 2012

Buku USM STAN 2012 Terlengkap dan Terupdate


STAN CRACKING BOOK 2012


Buku soal-soal USM STAN TERLENGKAP dan TERUPDATE

9 Paket soal bahas:

- Soal Bahas USM STAN 2009-2011

- Soal Bahas Crash Program Bea Cukai 2009

- 5 Paket Prediksi Soal Bahas USM STAN 2012

++ Info-info penting seputar STAN

++ Bonus stiker STAN Eksklusif



Hanya Rp 30.000 + ongkos kirim



Info lebih lanjut hubungi

08999753148 atau pin BB 27854DC3

Pesan sekarang juga sebelum kehabisan ^,^

Wednesday, December 14, 2011

Jakarta Tempo Doeloe

Kota Jakarta. Begitu panjang sejarahnya. Berganti nama mulai dari Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, sampai dengan Jakarta, nama yang dikenal sampai saat ini. Penguasa Jakarta pun silih berganti mulai dari Portugis, Belanda, hingga akhirnya Indonesia merdeka dan Jakarta menjadi ibukota Republik Indonesia.

Di balik sejarah kota Jakarta yang panjang tersebut, kota ini ternyata menyimpan berbagai kisah kejayaan yang pernah dilaluinya. Masa-masa kejayaan tersebut tentu saja menyisakan peninggalan-peninggalan, terutama berupa bangunan yang sebagian kecil masih dapat kita lihat saat ini, meskipun sebagian besarnya telah berubah menjadi kawasan perkotaan modern.

Berikut ini beberapa lukisan yang menggambarkan kawasan Jakarta tempo dulu:

1. Kawasan Pintu Kecil (HET CHINESCHE KAMP NABIJ DE PINTU KITJIL)



Selama paruh pertama abad ke-18, massa imigran Cina membanjiri Batavia. Mereka begitu banyak jumlahnya, sementara pasar kerja tidak mampu menyerap mereka. Akibat tidak berhasil menemukan pekerjaan, banyak dari mereka terpaksa melakukan pencurian. Kondisi ini menyebabkan keresahan sosial yang besar, dan secara tidak langsung, pada 9 Oktober 1740 terjadi pembantaian masyarakat Cina.

Setelah insiden ini, pemerintah Belanda memberlakukan peraturan terhadap orang keturunan Cina untuk tinggak di luar tembok batas kota. Kawasan Pecinan ini dinamai Pintu Kecil, terletak tepat di belakang bangunan tua Java Bank (kini Bank Indonesia) di daerah Glodok, menandai pintu masuk selatan kota.


2. Museum Fatahillah (HET STADHUIS TE BATAVIA)



Di pusat kota Batavia, di daerah yang kini dikenal sebagai Kota, berdiri bangunan dari awal abad 18 yang pernah berfungsi sebagai 'Stadhuis' atau balai kota. Bangunan ini dianggap sebagai salah satu contoh terbaik dari arsitektur kolonial Belanda.

Lapangan di depan gedung berfungsi sebagai alun-alun utama kota selama periode waktu tersebut. Aula, yang pembangunannya selesai pada tahun 1710, berfungsi sebagai kantor administratif Batavia dan menampung dua pengadilan hukum serta kantor komandan militer Belanda. Di bawah ruangan aula tersebut terdapat penjara. Sekarang bangunan ini dinamai Museum Fatahillah, dan sejak tahun 1974 berfungsi sebagai Museum Sejarah Jakarta.


3. Rumah Raden Saleh (HUIS VAN RADEN SALEH)



Raden Saleh, Bapak Lukisan Modern Indonesia, lahir pada tahun 1814 di Semarang dan menghabiskan masa kecilnya di rumah pamannya, seorang bupati, yang mendorong minat keponakannya dalam menggambar. Pada tahun 1829, Raden Saleh memperoleh beasiswa untuk belajar di Belanda. Pada tahun 1851, setelah kembali lagi ke Batavia, Ia membangun sebuah rumah besar dengan hiasan kaya detail bergaya Neo-Gothic Perancis untuk dirinya dan sang istrinya yang berdarah Eurasia.

Terletak di kawasan Cikini, Jakarta, sejak 1897, rumah ini berfungsi sebagai asrama bagi para perawat Rumah Sakit Cikini yang didirikan di atas perluasan tanah rumah Raden Saleh.


4. Istana Merdeka (HET NIEUWE PALEIS VAN DEN GOUVERNEUR-GENERAAL OP HET KONINGSPLEIN)



Pada akhir abad 19 (1873-1879), saat kediaman gubernur jenderal Belanda (kini 'Istana Negara') dirasa terlalu sempit guna memenuhi kebutuhan sebagai kediaman resmi, maka gedung baru dibangun tepat di belakang kediaman resmi tersebut untuk digunakan sebagai tempat resepsi kenegaraan.

'Istana Baru' tersebut, sebagaimana sebutannya kemudian, menjadi tempat bersejarah saat di depan gedung ini pada tanggal 27 Desember 1949 untuk terakhir kalinya bendera Belanda diturunkan dari tiang, lantas digantikan dengan bendera Merah-Putih Indonesia. Sesaat setelah bendera republik baru berkibar di angkasa, masyarakat sekitar gegap gempita dan dengan penuh haru serentak meneriakkan pekik "Merdeka!". Sejak saat itu gedung tersebut dinamai 'Istana Merdeka'.


5. Lapangan Banteng (WATERLOOPLEIN)



Mulanya dibangun dengan sebutan waterlooplein. Nama tersebut dipakai guna memperingati kebebasan Belanda dari pendudukan Perancis, setelah tentara Inggris berhasil menundukkan Napoleon pada pertempuran di Waterloo, Belgia. Waterlooplein dikenal juga sebagai Lapangan Singa karena di tengah lapangan tersebut, berdiri sebuah tugu yang di puncaknya terdapat patung singa, simbol keperkasaan.

Di lapangan ini berdiri pula monumen untuk mengenang General Michiels, seorang pejuang Belanda pada perang Padu di Sumatera. Saat Jakarta diduduki Jepang, pihak militer Jepang menggunakan Lapangan Singa sebagai tempat pelatihan militer dan arena kegiatan lain. Setelah Indonesia merdeka, Presiden Soekarno mengganti nama Lapangan Singa menjadi Lapangan Banteng.


6. Kantor Pos Besar Pasar Baru (HET POSTETABLISSEMEN TE WELTEVREDEN)



Selama zaman Belanda ada tujuh kantor pos di Batavia, dengan kantor pos pusat terletak di area perumahan Weltevreden. Kantor pos cabangnya terletak di daerah Gondangdia, Kramat, Molenvliet (Gadjah Mada), dan Meester Cornelis (Jatinegara). Ada juga dua kantor pos independen, satu di daerah Kota dan satu lagi di Tanjung Priok.

Di Jakarta masa ini, kantor pos utama (Kantor Pos Besar Pasar Baru) terletak tepat di belakang bekas bangunan kantor pusat dahulu yang sekarang berfungsi sebagai tempat untuk Perkumpulan Filateli Indonesia.

Demikianlah beberapa kawasan Jakarta tempo dulu yang dari masa ke masa menjadi saksi bisu dari setiap peristiwa sejarah yang terjadi. Sebagian bangunan tersebut saat ini menjadi cagar budaya yang keberadaannya dilindungi oleh pemerintah. Kawasan yang cukup besar dan masih banyak terdapat bangunan asli terletak di Kota, yang saat ini dikenal dengan kawasan Kota Tua dan menjadi salah satu tujuan wisata sejarah bagi warga Jakarta dan sekitarnya.



sumber gambar: kalender 2012 DAPENTEL

Tuesday, November 8, 2011

Vitamin C - Graduation (Friends Forever)


And so we talked all night about the rest of our lives
Where we're gonna be when we turn 25
I keep thinking times will never change
Keep on thinking things will always be the same
But when we leave this year we won't be coming back
No more hanging out cause we're on a different track
And if you got something that you need to say
You better say it right now cause you don't have another day
Cause we're moving on and we can't slow down
These memories are playing like a film without sound
And I keep thinking of that night in June
I didn't know much of love
But it came too soon
And there was me and you
And then we got real blue
Stay at home talking on the telephone
We'd get so excited, we'd get so scared
Laughing at ourselves thinking life's not fair
And this is how it feels

[1] - As we go on
We remember
All the times we
Had together
And as our lives change
Come Whatever
We will still be
Friends Forever

So if we get the big jobs
And we make the big money
When we look back now
Will our jokes still be funny?
Will we still remember everything we learned in school?
Still be trying to break every single rule
Will little brainy Bobby be the stockbroker man?
Will Heather find a job that won't interfere with her tan?
I keep, I keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's a time to fly
And this is how it feels

[Repeat 1]

La, la, la, la:
Yeah, yeah, yeah
La, la, la, la:
We will still be friends forever

Will we think about tomorrow like we think about now?
Can we survive it out there?
Can we make it somehow?
I guess I thought that this would never end
And suddenly it's like we're women and men
Will the past be a shadow that will follow us 'round?
Will these memories fade when I leave this town
I keep, I keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's a time to fly

Monday, October 24, 2011

Bakso Keju

Awalnya saya terinspirasi ingin mencoba membuat bakso sendiri waktu nonton acara Rachel Ray di metro tv kemarin. Di acara itu ada dua orang tamu yang membuat bakso, namun bakso ala Eropa yang disajikan dengan saus.

Akhirnya tadi sore saya langsung mewujudkan ide bikin bakso tersebut. Ternyata bahan-bahannya tidak terlalu banyak, cara membuatnya pun sangat mudah. Bakso ini kemudian saya kreasikan dengan keju di dalamnya, terinspirasi dari bakso keju yang dijual di kantin SMA saya, SMAN 78.

Bahan-bahannya adalah sebagai berikut:

1. Daging sapi cincang 250 gr

2. Tepung tapioka 5 sdm

3. Putih telur 1 butir

4. Bawang putih 3 siung

5. Garam 1 sdm

6. Merica 1 sdm

7. Pala secukupnya

8. Penyedap rasa kaldu sapi 1 bungkus

9. Keju secukupnya

10. Air es secukupnya


Langkah-langkah membuat:

1. Haluskan bawang putih dan pala, campur dengan garam dan merica.

2. Masukan daging sapi cincang, putih telur, beserta bumbu ke dalam blender, kemudian tambahkan air es secukupnya, blender hingga adonan halus dan tercampur rata.


3. Buat bulatan-bulatan adonan bakso menggunakan tangan atau sendok. Jangan lupa lumuri tangan atau sendok dengan minyak goreng agar tidak lengket.

4. Isi bagian tengah bulatan adonan dengan potongan keju.


5. Masak air hingga mendidih, masukan bulatan-bulatan bakso ke dalam air yang telah mendidih selama 15-20 menit.

6. Bakso siap dihidangkan. Bakso dapat dipadukan dengan kuah atau dijadikan masakan lain, misalnya capcay.


Saturday, October 15, 2011

Wis..Udah..

Wisuda STAN
12 Oktober 2011
Jakarta Convention Center


Wisuda itu....
Saat kamu terbangun di pagi hari buta dan tidak bisa tertidur lagi
Karena ingat bahwa hari ini adalah hari spesial

Saat kamu harus ke salon setelah Subuh
Memakai kebaya yang sudah dirapikan pada malam sebelumnya
dan senyum sumringah bahkan ketika mata baru terbuka dari tidur



Wisuda itu....
Saat toga dan jubah membuatmu bagaikan raja sehari
Saat mendapat bunga dari kawan kecilmu tersayang...





Saat bersuka cita dengan teman sekelas...



Bergembira dengan kawan seperjuangan...



Dan mengabadikan momen bersama sahabat...




Yang terpenting, wisuda itu adalah...

Saat orang tuamu menangis haru karena bahagia
Dan kamu tau bahwa dirimulah alasan di baliknya...



Happy graduation,
Alhamdulillah...














Wednesday, October 5, 2011

The Sweetest September :) (part 2)

Graduation...

Satu lagi hadiah super duper indah dan menakjubkan di bulan September yang lalu yaituKELULUSAN STAN ANGKATAN 2008. Setelah 3 tahun kami menempuh pendidikan di STAN, pada hari Jumat, 30 September 2011, secara formal kami telah dinyatakan lulus dari STAN. Alhamdulillaah... :')

Momen kelulusan ini secara formal dilewati dengan sebuah acara yudisium. Kami kembali ke 3 tahun lalu, berkumpul di gedung G dengan pakaian putih hitam dan dasi, tapi kali ini tanpa name tag Dinamika.



Acara dimulai dengan hikmad, ceramah Direktur STAN, diikuti pembacaan nama-nama mahasiswa yang mendapat predikat terbaik. Pada yudisium ini, spesialisasi akuntansi pemerintahan dan bea cukai mendapat kesempatan untuk yudisium bersama.



Setelah pembacaan peringkat 12 besar di akuntansi dan 3 besar bea cukai, yudisium dilanjutkan dengan pembacaan nama, peringkat, beserta IPK seluruh mahasiswa. Ya, seluruh mahasiswa -___- Mulai dari IPK tertinggi sampai terakhir. Alhamdulillah dari keseluruhan 6 semester, saya mendapat IP kumulatif (nyaris) cum laude :p yaitu 3,49. Hehehe..

Saat pembacaan peringkat mendekati urutan 10 terakhir (dari 780an), suasana menjadi gegap gempita, sorak sorai riuh rendah diteriakkan oleh seluruh mahasiswa baik yang duduk di lantai bawah, maupun di tribun. Setiap nama dipanggil, semua bersorak, bahkan ada yang sampai mengangkat-angkat temannya. Selain itu, kami juga membentuk wave di tribun. Justru meriah sekali, lebih ramai dibandingkan ketika pembacaan peringkat 10 besar nilai tertinggi.

Sekitar pukul 17.30, acara yudisium pun selesai, dan kami dinyatakan resmi menjadi keluarga alumni STAN :)



September 2011, sebuah akhir adalah permulaan dari awal yang baru...

"Of all the things I still remember
Summer's never looked the same
The years go by and time just seems to fly
But the memories remain" -Daughtry, September-

Sunday, October 2, 2011

The Sweetest September :)

Sekarang saya tau kenapa Vina Panduwinata bilang September Ceria. Dan kenapa Green Day said wake me up when september ends. Karena September itu ternyata indah. Saking indahnya bagaikan sedang tidur dan bermimpi indah. :P

September 2011 bener-bener full of barokah, alhamdulillah...

Kelahiran Keponakan Pertama

Dari mulai lebaran, kami sekeluarga udah mulai siap-siap menyambut kelahiran si ganteng, cucu pertama di keluarga saya, anak pertama dari kakak saya, dan tentunya keponakan pertama saya. Awalnya diperkirakan si jabang bayi akan lahir sekitar tanggal 20an September. Tapi ternyata ketika tanggal 13 september kakak saya sudah mulai mules. Meskipun 3 kali bolak balik ke RS, kata dokter belum waktunya melahirkan, kira-kira 4 hari lagi. Sampai akhirnya hari Kamis tanggal 15 september kira-kira pukul 3 pagi, kakak saya benar-benar tidak tahan mulesnya katanya, dan pada saat itu juga dibawa lagi ke RS.

Akan tetapi, kata dokter saat itu masih pembukaan 1 (duh..jadi ngomongin tentang lahiran gini -___-"). Waktu kakak saya ke RS itu, saya nunggu rumah bareng Babeh. Dari jam 2 pagi kami nggak tidur sama sekali. Deg-degan banget.. Sedangkan si kakak ke RS diantar suaminya sama mama. Akhirnya sekitar jam 6 pagi saya bisa tidur sebentar. Pikir saya, nanti agak siangan saja saya menyusul ke RSnya.

Jam 9 saya terbangun dan mama sudah ada di rumah. Kata mama, tadi kakak saya sudah diperiksa dan kata dokter, setiap kali kakak saya mulas-mulas, detak jantung si bayi di dalam perut agak melemah.. Waduuh.. :(

Akhirnya sekitar jam 10 saya, mama, dan babeh pun pergi ke RS. Sekitar jam 11, dokter datang lagi ke ruangan kakak saya dan bilang bahwa kakak saya harus dicaesar karena si bayinya terlilit tali pusar di leher. Keluarga saya pasrah saja, apapun cara melahirkannya yang penting bayi dan ibu selamat :'). Akhirnya pukul 13 kakak masuk ke ruang operasi.

Saat itu saya, mama, babeh, dan kakak ipar menunggu dengan harap-harap cemas. Beneran deh, nungguin orang lahiran itu rasanya lebih galau daripada nunggu pengumuman dosbing.

Sekitar pukul 14 ada bayi didorong keluar, tapi ternyata bukan keponakan saya... Sekitar 15 menit kemudian dokter-dokter yang mengoperasi kakak saya sudah mulai keluar, alhamdulillah operasinya sudah selesai. Kakak ipar saya pun dipersilakan masuk ke ruang operasi melihat bayinya, dan saya benar-benar tidak sabar ingin melihat :D

Sekitar pukul 14.30 ada dua orang bayi didorong dalam satu tempat dorongan, mama saya awalnya mengira bahwa mereka adalah bayi kembar. Tapi ternyata yang seorang adalah bayinya Bu Renny alias kakak saya...waaaaaaa...... Tapi sayangnya bayi-bayi tersebut langsung dibawa ke ruang bayi.

Bayinya laki-laki. Beratnya 2,44kg, panjangnya 45cm. Beratnya agak kurang dari bayi normal (2,5kg) karena kata dokter suplai makanan dari ibunya agak terganggu karena plasentanya agak tertutup lemak. Tapi bayinya sehat, nagisnya kencang, dan matanya langsung melek waktu dibawa di dorongan itu.. :)

Saya, mama, dan babeh langsung ingin melihat si bayi di ruangan. Awalnya kami melihat dari jendela yang agak jauh dari inkubator si bayi. Kami bingung yang mana bayinya. Tetapi, ada seorang bayi yang melihat ke arah kami dari kejauhan. Kami pun pergi ke jendela sisi seberang, dan bertanya pada suster yang mana bayi kakak saya. Dan ternyata benar, bayi yang melihat kami dari tadi itu adalah keponakan saya :* :* :*


Kami diizinkan beberapa menit melihat. Lucuuuuu banget, matanya sudah melihat-lihat ke arah kami, dan senyum-senyum.. Legaaa banget pas udah liat ponakan lahir dengan selamat dan sehat. hehehe...

***

Hari Minggu, tanggal 18 September, Firas, nama keponakan saya, sudah boleh dibawa pulang. Malam sebelumnya saya buatkan hiasan untuk menyambut kedatangannya.. Welcome home Firas Malik Ghassani :)


"Berjemur dulu aaaahh.. 8)"


Bersambung....

Sunday, August 28, 2011

Balada Dua Pendamping

Bukan. Ini bukan cerita tentang pendamping hidup. Bukan juga tentang pendamping mempelai pengantin :P. Ini hanya satu cerita tentang pendamping wisuda.

Untuk anak-anak STAN angkatan 2008 yang lulus tahun ini, mungkin perjuangan untuk mendapat jatah dua orang pendamping wisuda menjadi salah satu momen yang paling dikenang. Gimana nggak, sejak panitia wisuda ngumumin kalo jatah dua pendamping terbatas, sontaklah anak-anak pada heboh. Ada yang ngomel-ngomelin panitia, ada yang ngomporin yang ngomel-ngomelin, ada yang cuma nontonin temen-temen yang pada ngomel-ngomel, tapi ada juga yang mencoba menengahi dengan bijak.

Jadi setelah babibubabibu sama panitia (cuma lewat group facebook), akhirnya diputusin bahwa nanti yang tercepat mengantrilah yang akan dapat dua pendamping. Selebihnya, cuma akan dapat jatah satu orang pendamping. Oke, anak-anak tingkat 3 yang nyatanya lagi liburan selesai UAS dan nunggu kompre, pada nanggepin dengan sinis. Merasa liburannya terganggu buat ngantri daftar wisuda. Apalagi dengan kuota pendamping yang terbatas. Tapi mau gimana lagi, panwis tetep kekeuh sama keputusan mereka.. Hhhh...

Akhirnya, pada hari pendaftaran yang sudah ditentukan, anak-anak tingkat 3 berangkatlah dulu-duluan untuk ngantri daftar biar dapet 2 pendamping. Khusus anak akun, dapat pengecualian daftar tanggal 12 Agustus, beda sama spes-spes lain. Nah, karena kami daftar belakangan, kami jadi tau strategi spes-spes lain untuk mengantri. Ternyata mereka berangkat ke kampus sehabis sahur, bahkan ada yang sholat subuh di depan gedung. Yak, bagus sekali... -___-

Sehari sebelum pendaftaran untuk spes akun, PSAK yang tugasnya emang ngebantu anak-anak tingkat 3 dalam menghadapi segala hal menjelang kelulusa, mulai dari KTTA, UTS, UAS, UKS, dan termasuk sebagai fasilitator untuk komunikasi dengan panwis, akhirnya memutuskan untuk membuat sistem antrean khusus untuk anak-anak spes akun. Jadi kami bisa mengantri di lapangan A, dan antrean sudah dibuka dari jam 4 pagi. Nah, dari sati sisi, keputusan ini emang bikin antrean rapi dan kondusif. Tapi, di sisi lain, sistem ini ternyata malah bikin anak-anak makin gencar menyusun strategi buat bertempur. Termasuk saya.

Jadi, sore harinya kelas kami judulnya tentir bersama menjelang UKS, buka bersama di kosan si Jonki, dan...menyusun strategi. Tapi kayaknya strategi bersama ini kurang mempan deh karena masing-masing ternyata punya strategi rahasia sendiri... Ckckck.

Saya yang nggak ngekos, akhirnya terpaksa nginep di kosan Ni'un malam itu agar tidak ketinggalan untuk mengantri. Suasana malam itu sungguh mencekam. Hahahah..lebay ding. Karena Ni'un masih belum pulang ke kosan, akhirnya saya nunggu di kosan nenek. Tiba-tiba sekitar jam 11 malam, teman sekosnya si nenek ada yang udah siap-siap mau berangkat ke lapangan A dengan pakaian kuliah rapi. APAAAA??!!

Situasi pun semakin memanas. Nggak lama kemudian, temen-teman mulai update status facebook, bilang bahwa di lapangan A sudah mulai banyak yang mengantri. Padahal saat itu masih jam 12 malam. Selain itu, temen-teman sekelas saya juga sudah mulai menjarkom bahwa antrean mulai terisi. Ckckck...

Saya yang saat itu ada di kos Niun, akhirnya mulai siap-siap. Saya masak dulu buat bekal sahur. Niun masak nasi, saya masak lauknya. Sambil menunggu Niun menyelesaikan tugas BA, saya siap-siap, ganti baju kuliah, dan memasukkan bekal ke tempat makan. Heboh banget pokoknya. Apalagi kelasnya si Niun antrean sudah terisi sampai nomor 30 (dari jatah per tiga kelas hanya 57 orang).

Menu sahur ala chef Ika dan Niun


Setelah siap, kami berdua langsung capcus berangkat ke kampus sambil lari-lari. Bayangkan, jam setengah 1 malam kami pakai seragam kuliah rapi, kemeja dan rok panjang plus ngalungin KTM. Ketika sampai di gerbang Kalimongso, yang hanya berupa pintu pagar selebar kira-kira 1,5 meter dan tinggi kira-kira 2,5 meter, kami benar-benar kaget. Di sana kami lihat beberapa mahasiswi sudah memanjat karena pagar tersebut memang dikunci kalo malam. Ya ampun.. haruskah saya memanjat pagar besi berkawat itu???

T.E.R.P.A.K.S.A. Awalnya Niun manjat duluan. Saya yang masih takut, masih belum manjat. Tapi akhirnya saya mengikuti teman-teman lain memanjat pagar tersebut. Yak! Akhirnya kami berhasil masuk ke dalam kampus. :D

Tidak disangka, ternyata lapangan A sudah penuh dengan anak tingkat 3 akun yang mengantri. Saya sendiri dapat nomor antrean 39 kalo tidak salah, sedangkan Niun sudah dapat nomor 50an di line kelasnya. Setelah dicatat namanya, kami bisa menunggu di luar line. Benar-benar menakjubkan sodara-sodara! Semua berkumpul duduk-duduk di lapagan A mulai jam 1 malam, padahal antrean pendaftaran oleh PSAK baru dibuka pukul 4 pagi, dan antrean panwis baru resmi dibuka jam 8 pagi...


Suasana Lapangan A pukul 1 pagi


Wajah-wajah kemenangan setelah berhasil manjat pagar Kalimongso


Akan tetapi, kami tidak menyia-nyiakan momen spesial ini. Saya dan teman-teman sekelas menggelar alas dari kardus untuk duduk di dekat lampu, agar terang. Setelah itu masing-masing punya kegiatan, ada yang main kartu, ada yang tilawah baca Qur'an, bahkan ada yang (pura-pura) belajar baca modul. :P


Kegiatan sambil nunggu ngantri...


Nggak kerasa waktu sahur tiba. Saya dan Niun untungnya udah mempersiapkan bekal dari kosan. Teman-teman yang lain mulai membeli makan sahur di luar. Setelah itu kami pun sahur bersama dengan lesehan beralaskan kardus di lapangan A yang berumput...


Sahur bareng @ Lapangan A :)


Salah satu korban abis sahur -___-


Sampai akhirnya jam 4 pagi PSAK mulai mendata antrean. Ternyata setelah itu kami bisa pulang untuk sholat Subuh dulu, tetapi harus kembali ke antrean lagi pukul 6 pagi. Wiiihh..padahal ngantuknya nggak ketulungan karena semalaman nggak tidur sama sekali. Setelah bubar, saya ikut ke kos Niun lagi. Sholat Subuh dan mandi. Pukul 6 kurang beberapa menit kami balik lagi ke lapangan A dengan muka zombie yang belum tidur.

Pukul setengah 7, antrean masuk ke gedung I dimulai. Kami duduk di lobi sambil mengantuk-ngantuk. Alamaaak.. lama betul ngantrinya. Saya baru dipanggil sekitar jam setengah 9. Jadi total untuk ngantri kami yaitu selama 8 jam.. T______T

Akhirnyaaaaa....setelah perjuangan keras dapatlah tiket 2 pendamping wisuda. Alhamdulillah yah..Semoga semuanya lancar.. Wisuda, Here We Come.... ^.^
 

Template by Suck My Lolly - Background Image by TotallySevere.com