Pages

Friday, July 20, 2012

Ini Ramadhanku, Mana Ramadhanmu? :D

Ramadhaaan dataaang... Semua pun senaaaang...

Alhamdulillah Ramadhan sudah menghampiri kita lagi. Cepat banget, rasanya baru kemarin bulan Ramadhan yang diisi dengan kesibukan kompre, ngantri wisuda, buka puasa bareng temen-temen kuliah. Sekarang bertemu lagi dengan Ramadhan dengan kondisi yang berbeda, sudah lulus kuliah dan mulai bekerja. Ya, Ramadhan memang penuh berkah dan cerita sehingga kedatangannya pun selalu dinanti.

Yang paling saya syukuri, tahun ini saya bisa berpuasa bareng keluarga di rumah. Bersyukur banget, karena kalo melihat teman-teman yang tinggal jauh dari keluarga di bulan Ramadhan ini pasti rasanya sepi. Kebetulan saya juga pernah merasakannya waktu saya ngekos dulu (meskipun ngekosnya ternyata cuma sebulan sih, hehehe). Ceritanya tahun 2008 yang lalu saya baru diterima di Universitas Indonesia, otomatis saya harus ngekos di Depok karena gak kuat deh tiap hari pulang-pergi dari rumah. Nah, pada waktu itu kebetulan bertepatan dengan awal Ramadhan. Haaah, sedih pokoknya kalo puasa di kosan. Nyari sahurnya itu lhooo yang males. Akhirnya dulu saya biasa beli makan malam sekaligus untuk makan sahur, biar gak perlu keluar beli makan sahur lagi. Misalnya, saya beli daging cincang dari warung nasi padang satu porsi. Kebetulan satu porsi itu lumayan banyak, gak habis dimakan sendiri. Jadilah saya simpan di kulkas sisanya untuk dihangatkan pada saat sahur. Hehehe... Sekedar tips buat anak kosan dalam menghadapi bulan Ramadhan nih. Tapi ternyata, takdir berkata lain, saya hanya menghabiskan kurang dari seminggu berpuasa di kosan karena setelah itu saya diterima di STAN dan....GAGAL NGEKOS deh.

Selain cerita Ramadhan di kosan, Ramadhan tahun 2011 kemarin juga cukup berkesan. Kenapa? Karena tahun kemarin itu angkatan kami lagi sibuk-sibuknya. Tsaaah... Awalnya kami masih agak santai karena ujian kompre kami kira akan diadakan setelah Lebaran, sampai ada suatu berita kejutan: Kompre dimajukan jadi sebelum Lebaran. Jegeeeeerr... Panik dong ya. Mulai deh kami ngadain belajar bareng, tentir bareng, dan lain-lain bareng (ngerumpi pas tentir bareng, sibuk nyiapin buka puasa pas tentir bareng :p), pokoknya heboh. Tapi Alhamdulillah kami bisa ngelewatin ujian tentir tersebut meskipun ujiannya pada saat bulan puasa.

Setelah tenang melewati kompre, ternyata ada satu kehebohan lagi di Ramadhan tahun kemarin. Yang ini bener-bener heboh: Antre Wisuda Spesialisasi Akuntansi Pemerintahan Lulusan 2011. Ckckck.. Bayangkan, demi mendapat 1 "golden ticket" dua pendamping, anak-anak rela dateng ke lapangan kampus jam 1 pagi. Ya, jam 1 pagi. Bahkan, sahur aja belom. Sampai kami sahur bareng di lapangan tersebut menunggu antrean dibuka jam 5 pagi. Ah, miss that moment so much! Kalo mau baca cerita lengkapnya bisa diliat di sini.

Ramadhan memang bulan yang spesial. Suasananya spesial, mulai dari sahur bareng keluarga, pesantren kilat (waktu jaman sekolah dulu), nyari ta'jil di pasar sore bareng temen-temen, tarawih bareng ke masjid. Makanannya pun serba spesial, meskipun mungkin sebenarnya makanan biasa saja. Segala sajian segambreng deh itu di meja waktu buka puasa, sirup, es kelapa, teh manis, minuman kreasi sendiri, kurma, cireng buatan mama saya (serius lho, saya sukaa banget buka puasa pake cireng), bakwan, lumpia, kolak, kue-kue, dan sebagainya. Nyaaamm... Spesial!

Tapi bagaimanapun, hal yang paling penting pada bulan Ramadhan ini yaitu peningkatan ibadah kita. Mumpung pahala ibaratnya lagi diobral besar-besaran. Jangan sampe Ramadhan cuma dilewatkan begitu aja dengan tidur siang sepanjang hari. Rugi laaaaaah yaaaaw :))

*******-.Marhaban Yaa Ramadhan 1433 H.-*******


Friday, July 6, 2012

DJPBN, Bukan DJPB (?)

Sebagai lulusan STAN, saya sudah sangat akrab mendengar Direktorat Jenderal Perbendaharaan karena banyak teman-teman saya yang ditempatkan di Instansi tersebut. Biasanya saya dan teman-teman menyingkatnya dengan DJPB. 

Ternyata selama ini singkatan tersebut salah. Saya baru tahu ketika saya sedang browsing internet, di salah satu website ada logo berikut ini:


Walaaah... Jadi singkatan yang benar untuk Direktorat Jenderal Perbendaharaan adalah DJPBN, sedangkan DJPB sendiri singkatan dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. DJPBN merupakan Instansi di bawah Kementerian Keuangan, sedangkan DJPB berada di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan. Beda satu huruf, tapi meleset jauh artinya ya... Hehehe

Sunday, July 1, 2012

Life Updates June 2012

1. Happy birthday my super-duper-beloved Mom :* (6th June).

2. Visited Kota Tua and Sunda Kelapa.



3. Attending Jakarta Book Fair 2012 with Ni'un.




4. Attending Launching "Revolusi Pedas" Sang Presiden Maicih book.




5. On The Job Training done \(^,^)/



   Alhamdulillaaah...... :))

Launching Buku "Revolusi Pedas" Sang Presiden Maicih

Hari Jumat tanggal 29 Juni 2012 kemarin merupakan hari ulang tahun Maicih yang ke-2. Selain itu, momen ini juga dijadikan hari launching buku "Revolusi Pedas" Sang Presiden Maicih yang ditulis langsung oleh Pak Pres Maicih, yaitu @axltwentynine atau Reza Nurhilman, sang pendiri Maicih. Beberapa hari sebelumnya saya memang sudah mendengar mengenai acara tersebut, namun belum ada niatan untuk datang. Sampai dua hari sebelum acara, tiba-tiba saya melihat di twitter ada yang menawarkan tiket gratis untuk hadir ke launching buku tersebut. Setelah pikir-pikir, boleh juga nih, lumayan gratis, padahal harga 1 tiketnya aja Rp 75.000. Hehehe... Selain itu, saya melihat di posternya bahwa akan banyak artis-artis dan tokoh-tokoh terkenal yang menjadi undangan VIPnya. Jadi, langsung saja saya menghubungi orang yang menawarkan tiket gratis tersebut, yang ternyata adalah mahasiswa D4 STAN, dan untungnya lagi saya boleh mendapatkan 2 tiket gratis. :D


Pada hari Jumat, sepulang kantor akhirnya saya langsung menuju Grand Indonesia. Acara tersebut diadakan di Studio 2 Blitz Megaplex Grand Indonesia mulai pukul 18.00. Tapi ternyata acara baru mulai sekitar pukul 19.30. Tiket gratis yang kami dapat merupakan undangan khusus dari Jenderal Maicih @ryndes. Wiiih senangnya... Sesampainya di Blitz, saya dan beberapa teman dari STAN langsung mengambil undangan tersebut. Nggak nyesel deh datang, selain dapet gratisan (emang dasar senengnya sama yang gretongan), kami juga mendapat goody bag yang isinya buku "Revolusi Pedas" Sang Presiden Maicih, 3 bungkus keripik Maicih (level 3, level 5, dan level 10), 1 toples kastengel dari sponsor, dan 1 buah buku agenda dari gramedia. Oh iya, selain itu semua undangan juga mendapat snack air mineral dan hot dog. Lumayan banget kan... :p


Setelah masuk studio saya cukup terkejut plus senang karena ternyata mendapat tempat duduk di barisan kedua dari depan. Beruntung banget! Karena tempat duduknya yang naik ke atas seperti di studio bioskop pada umumnya dan penerangan yang remang-remang, saya nggak kebayang kalo dapet duduk di belakang, pasti acara di panggung kurang terlihat jelas. Sekitar pukul 19.30, acara pun dimulai. Dibuka dengan pertunjukan comic dari Kang Ence Bagus yang cukup bikin ketawa ngikik. Acara dilanjutkan dengan talkshow dengan beberapa speaker, yaitu Tina Talisa, Prabu Revolusi, dan @pocongg. Paling suka waktu sesinya Teh Tina Talisa. Udah cantik, ngomongnya juga pinteeer banget. Emang beda ya kalo speakernya punya pengetahuan yang luas. Ia berbagi pengalaman serta pendapatnya tentang Maicih. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan berbagai doorprize (yang sayangnya saya lagi nggak beruntung :| ). 

 

Sesi yang paliiiing oke dan emang puncaknya acara yaitu penayangan slide perjalanan Maicih yang selanjutnya diikuti dengan presentasi Reza Nurhilaman. Ia bercerita tentang perjalanan hidupnya hingga sampai ke fase ini. Masa lalunya yang penuh perjuangan. Dari sebuah keluarga yang tidak memiliki figur seorang Ayah, menjalani masa kecil hingga remaja yang cukup sulit. Sampai akhirnya Ia memulai bisnis Maicih ini, dimulai dari menjajakan keripik dengan sepeda motor hingga akhirnya sekarang beromzet milyaran rupiah. Bayangkan, di usianya yang baru menginjak 25 tahun sat ini, Ia berhasil mencapai kesuksesan berkat kreativitasnya mengolah keripik singkong... Ckckck... Selain presentasi mengenai perjalanan Maicih, Reza juga memberikan motivasi kepada semua undangan yang hadir, agar semua berani memiliki mimpi dan berani mewujudkannya. Sebuah slide yang saya ingat sampai saat ini: Opportunity is no where ---> Opportunity is now here! Mengubah paradigma yang menganggap kesempatan itu tidak ada menjadi menyadari bahwa kesempatan itu ada saat ini juga, di depan kita. Ah mudah-mudahan semakin banyak pemuda Indonesia yang sukses seperti si Kang Reza ini, termasuk saya. Aamiin...

Setelah presentasi, acara dilanjutkan dengan tiup lilin dan potong kue sebagai penanda usia Maicih yang telah memasuki 2 tahun. Seluruh Jenderal dan Kru Maicih pun foto bersama. Selanjutnya acara diisi dengan penampilan dari Ecoutez yang membawakan lagu-lagu mereka. 


Sebelum pulang, saya sempat minta tanda tangan dari Pak Pres langsung di bukunya :D Sekitar pukul 21.30, saya pun pulang meskipun acara belum sepenuhnya selesai karena masih berlangsung penampilan dari Ecoutez. Tapi karena sudah malam dan lelah karena seharian habis kerja langsung ke sana, saya memutuskan untung langsung pulang saja.

Demikianlah, acara yang keren! Inspiratif. Happy birthday Maicih :)




Friday, June 22, 2012

Monolog Tentang Jakarta (HUT Jakarta Ke-485)

Halo Jakarta! Selamat pagi! :)

Hari ini, tanggal 22 Juni lho, berarti hari ulang tahun kamu yang ke 485. Waaaah... hampir 5 abad ya! Saya sempat bingung bagaimana hari tersebut ditetapkan sebagai hari lahir kota Jakarta. Kalo menurut artikel-artikel sejarah yang saya baca, berdasarkan SK tertanggal 23 Februari 1956 yang dibuat oleh Dewan Perwakilan Kota Sementara Djakarta Raja, hari lahir Jakarta ditetapkan pada 22 Juni 1527. Hari tersebut diperkirakan merupakan hari kemenangan Faletehan (Fatahillah) yang kemudian mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta (=kemenangan yang sempurna). Adapun dasar penetapannya adalah penelitian Prof. Soekanto sebagaimana diuraikan dalam bukunya Dari Djakarta ke Djajakarta (1954).

Oke deh, dalam rangka HUT Jakarta ke 485 ini, saya mau cerita pengalaman-pengalaman saya sejak saya kenal yang namanya kota Jakarta (...dari lahir dong??).

Saya lahir tahun 1990, di saat usia Jakarta sudah 463 tahun. Waaah bagaikan cucu dengan kakeknya kakek buyut yaa.. Di saat saya masih balita, tahun 90an, seingat saya kamu berlum terlalu seramai sekarang. Bahkan di daerah rumah saya, di Joglo, Jakarta Barat masih banyak kebun-kebun warga. Oh iya, di dekat rumah saya masih banyak pohon kecapi dan pohon jamblang, anak-anak sukaaa banget memetik buahnya untuk langsung dimakan. Nyaaammm.. Sekarang di mana nyari pohon buah jamblang ya? :(

Namun rindangnya pohon-pohon di lingkungan rumah saya tidah bertahan lama, sekitar tahun 1994-1996 tanah warga dibeli oleh developer sebuah perumahan elit. Pohon-pohon ditebang,  tanah dibuat jadi gundukan-gundukan seperti bukit-bukit kecil. Kata Bapak saya, nantinya di samping rumah saya akan dibangun sebuah jalan tol yaitu Jakarta Outer Ring Road (JORR) sehingga daerah ini akan jadi perumahan elit karena dekat tol yang menghubungkan seluruh Jakarta. Akan tetapi, ternyata pembangunan jalan tol dan perumahan tersebut baru dilaksanakan 18 tahun setelahnya (tahun 2012). Ckckck...

Tahun 1998. Tahun paling suram di kota Jakarta, menurut saya. Pada tahun tersebut negeri kita dilanda krisis moneter. Kerusuhan di mana-mana. Pada saat itu saya masih berusia 8 tahun, tetapi saya masih ingat berbagai kejadian yang ditayangkan di televisi. Saya juga merasakan ketegangan pada saat Jakarta mengalami kerusuhan di tahun tersebut. Mahasiswa bersatu berdemonstrasi ke gedung DPR. Ruko-ruko dan pusat perbelanjaan dijarah dan dibakar masa. Bahkan sampai terjadi kekerasan terhadap etnis Tionghoa pada saat itu. Hal ini terjadi karena masyarakat sudah sengsara dengan krisis moneter dan gerah dengan kepemimpinan Pak Harto yang sudah 32 tahun lamanya. Mahasiswa menuntut Pak Harto turun.

Sumber gambar: klik di sini

Ada satu moment yang tak bisa saya lupakan di masa itu. Sembako langka di mana-mana, bahkan tetangga kami yang membuka warung sampai menawarkan beras untuk kami beli dan sebagai cadangan kami karena stok benar-benar hampir habis. Di malam harinya, kami sekeluarga tidur dengan penuh waspada, hingga pada sekitar pukul 2 pagi tetangga kami mengetok-ngetok pintu pagar, Ia bilang agar waspada karena komplek perumahan di daerah Ciledug sudah ada yang dijarah warga. Saya takut sekali pada saat itu. Bapak saya sampai menggotong sekarung beras untuk diamankan ke gudang lantai atas. Bahkan saya sampai menyiapkan celengan saya kalo saja kami harus mengungsi T__T. Namun alhamdulillah hal buruk tersebut tidak sampai terjadi.

Pak Harto akhirnya lengser bulan Mei Tahun 1998. Pasca kerusuhan saya sangat terkejut karena swalayan di daerah Meruya tempat favorit saya setiap ikut belanja bareng Mama ternyata telah ludes terbakar. Padahal di sana ada Gramedia dan KFCnya lhooo (dulu masih jarang banget Gramedia sama KFC di Jakarta). Selain itu, Ramayana Ciledug juga dibakar masa, bahkan konon katanya banyak yang meninggal di sana. Pikiran saya saat itu, sayang banget mainan-mainan incaran saya berarti ikut terbakar T__T.

Lambat laun, krisis berlalu. Namun harga-harga di Jakarta jadi semakin mahal -__-". Tahun 2002, ruko-ruko yang terbakar mulai dibangun kembali. Pada saat itu mall-mall juga sudah mulai dibangun, meskipun jumlahnya masih sedikit. Di Jakarta Barat pun hanya ada Mall Puri Indah, Citraland, dan Taman Anggrek. Saat itu masih jarang sekali anak sekolah ngeceng ke mall. Hehehe...

Tahun 2002 juga terjadi banjir besar di Jakarta. Siklus banjir 5 tahunan. Saya ingat betul pada saat itu Jakarta banjir dimana-mana sampai sekolah saya pun diliburkan. Perumahan banyak yang terendam sehingga warga dievakuasi menggunakan perahu karet dan mengungsi di tempat-tempat yang aman.

Tahun 2004 perekonomian di Jakarta semakin membaik. Oh iya pada tanggal 15 Januari 2004 Jakarta memiliki juga sarana transportasi baru, namanya Trans Jakarta atau sering disebut dengan Busway. Pertama kalinya Busway beroperasi dengan jalur Blok M-Kota. Seneng deh akhirnya Jakarta punya sarana transportasi yang lumayan nyaman :).

Sumber gambar: klik di sini

Tahun 2007, banjir kembali terjadi. Lebih heboh karena saat itu saya bersekolah di SMA yang cukup jauh dari rumah. Ketika akan pulang sekolah kami tertahan hujan yang tak kunjung berhenti dari pagi. Akhirnya saya dan teman-teman nekat pulang dengan menggunakan payung. Kami ingin buru-buru pulang karena gosipnya jalan sudah mulai tergenang banjir. Benar saja, kami susah mencari angkot, semua penuh karena karyawan ternyata pulang siang itu juga karena kantor mereka kebanjiran. Setelah dapat angkot, ternyata angkot berhenti setengah perjalanan. Ternyata kali Pesanggrahan yang melewati Kebon Jeruk sudah meluap hingga membanjiri jalan raya. Perahu karet sudah siaga untuk menyebrangkan warga. Dan tentu saja tidak ada kendaraan yang bisa lewat.

Sumber gambar: klik di sini

Saya dan teman-teman kebingungan. Teman saya sampai menangis menelpon Ibunya karena tidak bisa pulang. Hahaha.. Akhirnya kami punya ide untuk naik taksi saja dan lewat jalan tol yang katanya belum tergenang. Syukurlah pada saat tersebut ada taksi lewat dan kami berlima yang rumahnya searah langsung naik. Ternyata gerbang tol luar biasa macetnya saat itu. Semua mobil ingin masuk tol. Polisi pun sampai kelimpungan mengaturnya. Setelah mengantri sekitar setengah sampai satu jam, akhirnya taksi yang kami tumpangi bisa masuk tol dan kami akhirnya tiba di rumah. Beruntung sekali kami masih sempat lewat tol saat itu karena ternyata jalan-jalan di pinggir tol sudah tergenang. Selain itu, pada malam harinya ada berita bahwa tol Kebon Jeruk juga tergenang banjir sampai mobil tidak bisa jalan sampai pukul 3 pagi.

Sumber gambar: Portal DJP

2012. Sudah 22 tahun saya tumbuh dan berkembang di kota ini. Meskipun sekarang banjir hampir setiap musim hujan, saya tetap cinta Jakarta. Meskipun macet semakin hari semakin menjadi, hutan kota semakin jarang, kondisi air tanah semakin buruk, mall menjamur dimana-mana, saya tetap memiliki harapan besar pada kota ini. Semoga kondisi ini akan membaik sesuai yang saya impikan: kota yang rindang, sejuk, banyak pohon, sungainya jernih, tidak macet, bersih, aman, nyaman, tertib, dan penduduknya damai, sejahtera. Semoga! 

Selamat Ulang Tahun ke-485 untuk Jakarta :)

Tuesday, May 29, 2012

Jessica Sanchez - Change Nothing Lyrics and Video



Everyday I’m waking up to deja vu
Someone it’s always telling me
Not to stick with you
Could it be the nights we spent to fixing us
I never thought that we were real, that messed up

Should have shut my mouth and kept it all to myself
Cause now they've got me feeling
I should be with somebody else

They say we don't fit together
I could do better
There's always something
They don't know the hell we've been through
Cause when you hold me like you do
That's when I wanna change nothing

There were times when we would kiss with bitter lips
It don't matter when the good ones taste like this

Maybe we were broken more than once or twice
What we got bad or not I'm not gonna compromise

I should have never let that words get under my skin
Cause all I ever wanted was to find a way through this

They say we don't fit together
I could do better
There's always something
They don't know the hell we've been through
Cause when you hold me like you do
That's when I wanna change nothing
That's when I wanna change nothing

Should have shut my mouth and kept it all to myself

No, no, ooooh, yeah...

They say we don't fit together
I could do better
There's always something
They don't know the hell we've been through
Cause when you hold me like you do
That's when I wanna change nothing

That's when I wanna change nothing
That's when I wanna change nothing
That's when I wanna change nothing
Oh that's when I wanna change nothing...




Source: Click here

Sunday, May 20, 2012

Quotes Favorit dari Film Hugo

Gambar diambil dari sini

"Everything has a purpose, even machines. Clocks tell the time, trains take you places. They do what they're meant to do. Maybe it's the same with people. If you lose your purpose, it's like you're broken." - Hugo Cabret

"I'd imagine the whole world was one big machine. Machines never come with any extra parts, you know. They always come with the exact amount they need. So I figured if the entire world was one big machine, I couldn't be an extra part. I had to be here for some reason. And that means you have to be here for some reason too." - Hugo Cabret




Friday, May 18, 2012

Kisah Anak Magang TPT dan Orang Bule

Sudah hampir tiga bulan saya menyandang status sebagai anak magang, anak On the Job Training (OJT), atau pegawai diperbantukan yang sedang menunggu SK CPNS keluar, lebih tepatnya. Dalam proses OJT ini, saya dan teman-teman yang bertugas di KPP Pratama Jakarta Kebon Jeruk Satu diwajibkan untuk rolling ke tiap seksi setiap 3 hari sekali. Memang dalam proses OJT ini kami dituntut untuk aktif menggali ilmu sebanyak-banyaknya. Caranya bisa dengan bertanya pada pegawai-pegawai, maupun praktek langsung.

Pada beberapa seksi, anak-anak OJT kadang tidak mendapat kesempatan praktek langsung, namun di beberapa seksi lainnya kami bahkan mendapat tugas pokok menggantikan posisi yang kosong karena tidak ada pegawai. Salah satu posisi kosong tersebut yaitu bagian TPT (Tempat Perlayanan Terpadu) yang mengurus NPWP. TPT ini bisa disebut sebagai "front liner"nya KPP karena langsung berhadapan dengan Wajib Pajak setiap harinya.

Pengalaman menjadi petugas TPT cukup beragam. Pernah suatu kali teman ada Wajib Pajak yang marah-marah kepada teman saya sampai Ia teriak-teriak memaki. Saya yang pada saat itu bertugas di sampingnya sampai kaget dan diam seribu kata. Jadi petugas TPT itu memang harus memiliki kesabaran ekstra, menurut saya. 

Namun selain pengalaman yang kurang menyenangkan, ada juga pengalaman yang lucu terjadi ketika menjadi petugas TPT bagian NPWP. Saat itu saya kebagian menjaga loket NPWP sendirian karena teman saya sedang ke masuk ke dalam ruangan. Tiba-tiba ada seorang Bapak Warga Negara Asing yang datang menghampiri loket. Wah saya sudah seneng aja, ngebayangin bahwa saya akan mempraktekkan bahasa Inggris langsung dengan orang bule. Kebetulan beberapa minggu sebelumnya ada juga orang Jepang yang datang ke loket NPWP. Orang Jepang tersebut tidak bisa berbicara menggunakan bahasa Indonesia sehingga pegawai petugas NPWP saat itu berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris. Pegawai senior saya itu memang cukup fasih berbahasa Inggris karena sudah beberapa kali berpergian ke luar negeri. Mengingat hal tersebut, saya jadi siap-siap kira-kira orang bule yang datang ini akan bertanya mengenai apa. Saya harus siap menjelaskan.

Agak deg-degan sedikit (oke ini lebay) karena terakhir kali saya bicara dengan orang asing langsung yaitu sewaktu di Green Canyon. Saya berbicara dengan turis dari Kanada karena kebetulan satu perahu dengan mereka. Oke, kembali ke TPT, si Bapak menghampiri, dengan terbata-bata dan aksen bahasa Inggris Ia berkata, "For...mu...lir... S...S...P...??" Saya: "..????..." Guuubbraaakk!! Ternyata Ia hanya menanyakan dimana mengambil formulir SSP. -_____-" Memang sepertinya Ia tidak lancar berbahasa Indonesia, namun dengan hanya mengatakan formulir SSP, saya sudah mengerti maksudnya. Akhirnya saya jawab dengan bahasa Indonesia saja "Di Pak Satpam, Pak", Ia pun tersenyum dan langsung menuju tempat Pak Satpam untuk mengambil formulir SSP.


Demikian salah satu pengalaman jadi petugas loket NPWP di TPT. Mungkin saya harus ditempatkan di KPP Penanaman Modal Asing dulu kalo mau sering praktek berbicara langsung dengan Warga Negara Asing. Hehehehe...

Petualangan 1 Hari: Solo dan Jogja (Part 2, The End)

Posting sebelumnya: Dengan rencana kurang dari 3 hari sebelumnya, kami pergi berlibur ke Solo dan Jogja. Dalam waktu 1 hari kami pulang pergi Jakarta-Solo-Jogja-Jakarta. Dimulai dari Keraton Solo untuk melihat kebo bule, sampai kami melanjutkan perjalanan dari Solo ke Jogja dengan kereta api dari Stasiun Solo Balapan ke Stasiun Tugu.

Setelah menempuh perjalanan naik Prambanan Express selama 1 jam dari Solo, akhirnya kami tiba di Stasiun Tugu Jogjakarta. Ternyata di sana mobil dan supir yang telah kami pesan sudah menunggu, akhirnya kami pun langsung berangkat ke tujuan selanjutnya, yaitu Masjid Gede Kauman, Jogjakarta. Di sana kami melaksanakan sholat Dzuhur yang dijama’ dengan Ashar. Setelah itu kami melanjutkan ke Malioboro dan Pasar Beringharjo untuk bertemu keluarga teman saya yang menunggu di sana.

Karena waktunya yang benar-benar sempit, alhasil saya tidak sempat jalan-jalan dan belanja di Malioboro, hanya sempat belanja di Beringharjo. Dan tepat pukul 15.30 kami berangkat ke tujuan selanjutnya bersama keluarga teman saya, yaitu ke Pantai Parangtritis.

Ternyata jarak dari Jogja ke Parangtritis cukup jauh. Parangtritis sendiri sudah masuk ke Kabupaten Bantul. Akan tetapi, meskipun jaraknya yang cukup jauh, perjalanan hanya memakan waktu 45 menit karena tentu saja jalan di sana tidak ada macet seperti di Jakarta. 



Ini adalah kunjungan pertama saya ke Pantai Parangtritis. Ternyata ombaknya benar-benar besar, seperti yang sering diceritakan orang. Karena itu, pengunjung tidak bebas berenang di laut, hanya bermain-main di tepinya saja. Pemandangan tebing di tepi laut lepasnya sangat indah. Benar-benar pantai!

Seperti biasa, ritual saya setiap mengunjungi pantai: duduk ngedeprok di pasir seperti penyu. Hehehe... Di Parangtritis kebanyakan pengunjung hanya menikmati pemandangan, dengan duduk-duduk, naik delman, atau menyewa ATV. Itu pula yang kami lakukan, kami menyewa ATV untuk berkeliling pantai berpasir putih tersebut. Harga sewa ATV Rp 50.000 per 30 menit. Cukup mahal sih, tapi puas juga keliling-keliling.

Sayangnya ketika kami ke sana langit agak berawan sehingga sunsetnya terhalang dan tidak kelihatan dengan sempurna. Setelah puas kotor-kotoran di pantai, saya mandi dan mengganti pakaian serta sendal jepit yang baru dibeli di pinggir pantai.


Sebelum berangkat ke Bandara di Jogja, kami sempat beli makan di pinggir pantai. Kira-kira pukul 18.15 kami segera berangkat pulang agar tiba di Bandara sebelum pukul 19.30. Agak khawatir juga takut telat sampai di Bandara karena waktunya sempit. Tapi sekali lagi kekhawatiran dapat ditepis karena jalanan di Jogjakarta yang lancar jaya, tanpa macet. :D

Beberapa menit sebelum pukul 19.30 kami tiba di Bandara, langsung check in untuk penerbangan ke Jakarta pukul 20.00. Sambil menunggu keberangkatan, kami pamitan dengan keluarga teman saya. Pukul 20.00 kurang beberapa menit penumpang dipanggil untuk bersiap-siap dan kami pun pulang ke Jakarta dengan jadwal tepat waktu. See you next time Jogja... :D






Pesawat tiba di bandara sekitar pukul 21.30, dan kami tiba di rumah pukul 23.00. Perjalanan yang sangat melelahkan, tapi menyenangkan. Dan jadwal tanpa delay membuat perjalanan dilaksanakan sesuai run down yang telah dibuat teman saya sebelumnya. Thank you, Cong! hehehehe

Sunday, April 15, 2012

Petualangan 1 Hari: Solo dan Jogja

Assalamu'alaikum! hehehe.. Setelah cukup lama nggak posting, akhirnya saya membulatkan tekad untuk nulis lagi...


Pada dasarnya saya suka jalan-jalan, kemana aja, yang deket, yang jauh, dalam kota, luar kota, desa, kota, pasar, sungai, pantai, semuanya suka. Tapi, dalam hal jalan-jalan ini seringkali saya menemukan kendala yaitu susahnya dapet izin dari orangtua kalo mau pergi keluar kota, apalagi jika harus menginap. Jadi kurang lebih syarat-syarat yang harus saya penuhi kalo mau jalan-jalan keluar kota yaitu: 1. Harus jelas sama siapa 2. Harus jelas kemana, naik apa 3. Usahakan nggak nginep (kecuali memang ada kerabat atau rumah teman di daerah itu) Rempooong yeeee... :(


Tapi entah kenapa tiba-tiba kemarin ada keajaiban, izin orangtua saya keluar dengan lancar saat saya bilang mau ke jogja. Jadi, awalnya ada teman saya, anak Klaten (yang belum tau Klaten di mana, Klaten itu salah satu kabupaten yang terletak di antara Solo dan Jogja) berencana untuk pulang kampung akhir pekan ini. Karena tidak punya banyak waktu selain weekend, dia berencana pulang hanya 1 hari dan bertemu keluarga di Jogja. Nah, kebetulan minggu kemarin ada promo tiket pesawat Lion Air, jadilah Ia berencana pulang naik pesawat pada hari Sabtu pagi.


Tiba-tiba hari Rabu malam temen saya sms, katanya mau ikut nggak ke Jogja bareng dia, awalnya saya pesimis bakal dapet izin, eh ternyata dugaan saya salah, karena orangtua ternyata mengizinkan, mungkin karena teman saya langsung yang bilang ke orangtua saya dan juga karena perjalanan ke Jogja ini direncanakan hanya 1 hari, tanpa menginap, berarti persyaratan keluar izin terpenuhi. Berangkat pagi dari Jakarta dan pulang lagi malam harinya. Yeaaaayyy! Jogjaaaa saya datang lagi \(^.^)/

***

Pada hari Sabtu, sesuai dengan rencana, kami berangkat pagi-pagi dari Jakarta. Teman saya tiba di rumah saya pukul 05.30, setelah sarapan dan siap-siap, kami berangkat ke bandara pukul 05.45 naik sepeda motor. Tiba di bandara sekitar pukul 06.30, cukup cepat karena jalanan Sabtu pagi sangat lancar, apalagi kami lewat jalan tol (nah loh, bingung kan naik sepeda motor tapi lewat tol :p). Kami akan berangkat dengan penerbangan pukul 8 pagi sehingga masih ada waktu sekitar 1,5 jam untuk menunggu.


Jam 8 teng penumpang dipanggil, alhamdulillah jadwalnya tepat waktu, jadi rundown acara yang dibuat nggak molor deh.. hehe.. Cuaca cerah, jadwal yang tepat waktu, aah.. paling seneng deh kalo begini. Bye Jakarta... :)

***

Dari Jakarta ke Solo, Menengok Kebo Bule


Pukul setengah 10 kami tiba di Solo. Ya, sesuai rencana memang kami akan jalan-jalan di Solo dulu sebelum ke Jogja. Ternyata partner perjalanan saya kali ini sudah mempersiapkan betul segala sesuatunya, sampai ketika kami tiba di bandara Solo ternyata Ia sudah menghubungi temannya di Solo untuk meminjam sepeda motor. Asiiiiik.... Keliling kota Solo secara kilat dalam waktu 1,5 jam naik sepeda motor, berangkaaat :D


Tempat yang kami kunjungi di Solo yaitu Keraton. Karena Keraton letaknya di kota Solo, sedangkan bandara Adi Sumarmo letaknya di Boyolali, kami harus menempuh perjalanan sekitar setengah jam. Setengah jam di sana cukup jauh, tidak seperti di Jakarta yang macet, setengah jam hanya untuk menempuh 7 km -__-.


Perjalanan ke Keraton sangat menyenangkan, jadi tidak terasa lama. Kami tiba di Keraton sekitar pukul 11. Bangunannya kuno tapi cukup terawat. Sekeliling Keraton dibatasi tembok tinggi. Untuk masuk ke kawasan Keraon ini tidak dipungut biaya, kecuali jika ingin masuk ke museumnya.


Tiba di gerbang Keraton saya cukup terpukau dan menikmati arsitektur bangunannya. Sampe tiba-tiba si partner perjalanan saya tidak kunjung memberhentikan sepeda motor. Dan tebak, dia mengajak saya kemana? Ke tempat kebo bule -___-


Ya, kebo bule adalah kerbau-kerbau peliharaan keluarga Keraton yang dianggap keramat dan dikenal dengan nama Kyai Slamet. Tapi ternyata kandang kebo bule yang ditunjukkan teman saya kosong, dia pun bertanya ke orang-orang di mana kebo bulenya sekarang, ternyata tempatnya ada di kandang di bagian belakang Keraton, kami pun menghampiri ke sana.


Ketika tiba di tempat kebo bule yang ditunjukkan, ternyata mereka sedang berkubang di lumpur, jadi nggak keliatan deh warna bule (keputih-putihan) kulit kerbaunya. Well, jadi teman saya mengajak ke Keraton Solo ini cuma buat menengok kebo bulenya? -__-"



***

Setelah berfoto dengan kebo bule, kami pun ke bagian depan keraton untuk melihat-lihat. Ternyata kami boleh juga berfoto dengan para abdi dalem atau ajudan keraton Solo. Mereka adalah orang-orang yang setia mengabdi pada Keraton Solo. Untuk berfoto dengan para abdi dalem ini, kita diminta untuk membayar seikhlasnya.




***

Mengirup Udara Klaten


Sekitar pukul 11, kami pergi dari Keraton untuk menuju Stasiun Solo Balapan, mengembalikan sepeda motor, dan naik kereta ke Jogjakarta. Sayangnya jadwal agak mundur, kami ketinggalan kereta yang berangkat pukul 11.30 sehingga terpaksa naik kereta selanjutnya pada pukul 12.30.



Kereta Solo ke Jogja bernama Prambanan Ekspress. Tiketnya Rp 10.000 sampai ke Jogja. Kereta ini juga berhenti di stasiun Klaten, akan tetapi teman saya tidak turun karena sudah janjian dengan keluarga untuk bertemu di Jogja. Alhasil, untuk mengobati kerinduan pada kampung halaman, Ia hanya pergi ke arah pintu kereta ketika kereta berhenti di Stasiun Klaten, dengan kepala melongok keluar kereta dan Ia pun......menghirup udara Klaten :D




Bersambung......

Thursday, March 22, 2012

Kenapa Itawakitsumaki?


Kenapa Itawakitsumaki? atau mungkin lebih tepatnya apa itu itawakitsumaki? atau siapa itu itawakitsumaki? Ah, bagi saya judul tidaklah begitu penting.

Mungkin ada teman-teman yang bertanya kenapa alamat blog ini Itawakitsumaki? Kenapa username twitter saya @itawakitsumaki? Mungkin, mungkin loh yaaa... ada juga yang mengira itawakitsumaki itu nama ke-sok-jepang-jepangan saya. Hehehe...

Jadi begini awal mulanya. Sejak sekitar kelas 5 SD, saya iseng membalik nama saya, membacanya dari belakang, Ika Mustikawati -> Itawakitsumaki. Nah! Sejak saat itu, saya suka iseng pake nama ini. Kalo disingkat jadi Kitsu Chan (ini main-maninan waktu jaman SMP).

Sebenarnya ada satu alasan mengapa saya memakai Itawakitsumaki jadi alamat blog dan username-username saya, yaitu karena nama Ika Mustikawati ternyata pasaran alias banyak banget orang yang bernama Ika Mustikawati. T__T Jadi, mau nggak mau seringkali username Ika Mustikawati itu udah ada yang memakai, baik untuk email, twitter, atau username lain yang sifatnya unik.

Demikianlah, akhirnya Itawakitsumaki jadi sering saya pakai. Ada temen yang udah lama ngeh kalo ini merupakan nama saya yang dibalik atau dibaca dari belakang. Tapi ada juga yang suka mengira ini nama kejepang-jepangan. Bukan bahasa Jepang, Itawakitsumaki=Ikamustikawati.


Hehehehe :D

Sunday, January 22, 2012

Buku USM STAN 2012 Terlengkap dan Terupdate


STAN CRACKING BOOK 2012


Buku soal-soal USM STAN TERLENGKAP dan TERUPDATE

9 Paket soal bahas:

- Soal Bahas USM STAN 2009-2011

- Soal Bahas Crash Program Bea Cukai 2009

- 5 Paket Prediksi Soal Bahas USM STAN 2012

++ Info-info penting seputar STAN

++ Bonus stiker STAN Eksklusif



Hanya Rp 30.000 + ongkos kirim



Info lebih lanjut hubungi

08999753148 atau pin BB 27854DC3

Pesan sekarang juga sebelum kehabisan ^,^

Wednesday, December 14, 2011

Jakarta Tempo Doeloe

Kota Jakarta. Begitu panjang sejarahnya. Berganti nama mulai dari Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, sampai dengan Jakarta, nama yang dikenal sampai saat ini. Penguasa Jakarta pun silih berganti mulai dari Portugis, Belanda, hingga akhirnya Indonesia merdeka dan Jakarta menjadi ibukota Republik Indonesia.

Di balik sejarah kota Jakarta yang panjang tersebut, kota ini ternyata menyimpan berbagai kisah kejayaan yang pernah dilaluinya. Masa-masa kejayaan tersebut tentu saja menyisakan peninggalan-peninggalan, terutama berupa bangunan yang sebagian kecil masih dapat kita lihat saat ini, meskipun sebagian besarnya telah berubah menjadi kawasan perkotaan modern.

Berikut ini beberapa lukisan yang menggambarkan kawasan Jakarta tempo dulu:

1. Kawasan Pintu Kecil (HET CHINESCHE KAMP NABIJ DE PINTU KITJIL)



Selama paruh pertama abad ke-18, massa imigran Cina membanjiri Batavia. Mereka begitu banyak jumlahnya, sementara pasar kerja tidak mampu menyerap mereka. Akibat tidak berhasil menemukan pekerjaan, banyak dari mereka terpaksa melakukan pencurian. Kondisi ini menyebabkan keresahan sosial yang besar, dan secara tidak langsung, pada 9 Oktober 1740 terjadi pembantaian masyarakat Cina.

Setelah insiden ini, pemerintah Belanda memberlakukan peraturan terhadap orang keturunan Cina untuk tinggak di luar tembok batas kota. Kawasan Pecinan ini dinamai Pintu Kecil, terletak tepat di belakang bangunan tua Java Bank (kini Bank Indonesia) di daerah Glodok, menandai pintu masuk selatan kota.


2. Museum Fatahillah (HET STADHUIS TE BATAVIA)



Di pusat kota Batavia, di daerah yang kini dikenal sebagai Kota, berdiri bangunan dari awal abad 18 yang pernah berfungsi sebagai 'Stadhuis' atau balai kota. Bangunan ini dianggap sebagai salah satu contoh terbaik dari arsitektur kolonial Belanda.

Lapangan di depan gedung berfungsi sebagai alun-alun utama kota selama periode waktu tersebut. Aula, yang pembangunannya selesai pada tahun 1710, berfungsi sebagai kantor administratif Batavia dan menampung dua pengadilan hukum serta kantor komandan militer Belanda. Di bawah ruangan aula tersebut terdapat penjara. Sekarang bangunan ini dinamai Museum Fatahillah, dan sejak tahun 1974 berfungsi sebagai Museum Sejarah Jakarta.


3. Rumah Raden Saleh (HUIS VAN RADEN SALEH)



Raden Saleh, Bapak Lukisan Modern Indonesia, lahir pada tahun 1814 di Semarang dan menghabiskan masa kecilnya di rumah pamannya, seorang bupati, yang mendorong minat keponakannya dalam menggambar. Pada tahun 1829, Raden Saleh memperoleh beasiswa untuk belajar di Belanda. Pada tahun 1851, setelah kembali lagi ke Batavia, Ia membangun sebuah rumah besar dengan hiasan kaya detail bergaya Neo-Gothic Perancis untuk dirinya dan sang istrinya yang berdarah Eurasia.

Terletak di kawasan Cikini, Jakarta, sejak 1897, rumah ini berfungsi sebagai asrama bagi para perawat Rumah Sakit Cikini yang didirikan di atas perluasan tanah rumah Raden Saleh.


4. Istana Merdeka (HET NIEUWE PALEIS VAN DEN GOUVERNEUR-GENERAAL OP HET KONINGSPLEIN)



Pada akhir abad 19 (1873-1879), saat kediaman gubernur jenderal Belanda (kini 'Istana Negara') dirasa terlalu sempit guna memenuhi kebutuhan sebagai kediaman resmi, maka gedung baru dibangun tepat di belakang kediaman resmi tersebut untuk digunakan sebagai tempat resepsi kenegaraan.

'Istana Baru' tersebut, sebagaimana sebutannya kemudian, menjadi tempat bersejarah saat di depan gedung ini pada tanggal 27 Desember 1949 untuk terakhir kalinya bendera Belanda diturunkan dari tiang, lantas digantikan dengan bendera Merah-Putih Indonesia. Sesaat setelah bendera republik baru berkibar di angkasa, masyarakat sekitar gegap gempita dan dengan penuh haru serentak meneriakkan pekik "Merdeka!". Sejak saat itu gedung tersebut dinamai 'Istana Merdeka'.


5. Lapangan Banteng (WATERLOOPLEIN)



Mulanya dibangun dengan sebutan waterlooplein. Nama tersebut dipakai guna memperingati kebebasan Belanda dari pendudukan Perancis, setelah tentara Inggris berhasil menundukkan Napoleon pada pertempuran di Waterloo, Belgia. Waterlooplein dikenal juga sebagai Lapangan Singa karena di tengah lapangan tersebut, berdiri sebuah tugu yang di puncaknya terdapat patung singa, simbol keperkasaan.

Di lapangan ini berdiri pula monumen untuk mengenang General Michiels, seorang pejuang Belanda pada perang Padu di Sumatera. Saat Jakarta diduduki Jepang, pihak militer Jepang menggunakan Lapangan Singa sebagai tempat pelatihan militer dan arena kegiatan lain. Setelah Indonesia merdeka, Presiden Soekarno mengganti nama Lapangan Singa menjadi Lapangan Banteng.


6. Kantor Pos Besar Pasar Baru (HET POSTETABLISSEMEN TE WELTEVREDEN)



Selama zaman Belanda ada tujuh kantor pos di Batavia, dengan kantor pos pusat terletak di area perumahan Weltevreden. Kantor pos cabangnya terletak di daerah Gondangdia, Kramat, Molenvliet (Gadjah Mada), dan Meester Cornelis (Jatinegara). Ada juga dua kantor pos independen, satu di daerah Kota dan satu lagi di Tanjung Priok.

Di Jakarta masa ini, kantor pos utama (Kantor Pos Besar Pasar Baru) terletak tepat di belakang bekas bangunan kantor pusat dahulu yang sekarang berfungsi sebagai tempat untuk Perkumpulan Filateli Indonesia.

Demikianlah beberapa kawasan Jakarta tempo dulu yang dari masa ke masa menjadi saksi bisu dari setiap peristiwa sejarah yang terjadi. Sebagian bangunan tersebut saat ini menjadi cagar budaya yang keberadaannya dilindungi oleh pemerintah. Kawasan yang cukup besar dan masih banyak terdapat bangunan asli terletak di Kota, yang saat ini dikenal dengan kawasan Kota Tua dan menjadi salah satu tujuan wisata sejarah bagi warga Jakarta dan sekitarnya.



sumber gambar: kalender 2012 DAPENTEL

Tuesday, November 8, 2011

Vitamin C - Graduation (Friends Forever)


And so we talked all night about the rest of our lives
Where we're gonna be when we turn 25
I keep thinking times will never change
Keep on thinking things will always be the same
But when we leave this year we won't be coming back
No more hanging out cause we're on a different track
And if you got something that you need to say
You better say it right now cause you don't have another day
Cause we're moving on and we can't slow down
These memories are playing like a film without sound
And I keep thinking of that night in June
I didn't know much of love
But it came too soon
And there was me and you
And then we got real blue
Stay at home talking on the telephone
We'd get so excited, we'd get so scared
Laughing at ourselves thinking life's not fair
And this is how it feels

[1] - As we go on
We remember
All the times we
Had together
And as our lives change
Come Whatever
We will still be
Friends Forever

So if we get the big jobs
And we make the big money
When we look back now
Will our jokes still be funny?
Will we still remember everything we learned in school?
Still be trying to break every single rule
Will little brainy Bobby be the stockbroker man?
Will Heather find a job that won't interfere with her tan?
I keep, I keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's a time to fly
And this is how it feels

[Repeat 1]

La, la, la, la:
Yeah, yeah, yeah
La, la, la, la:
We will still be friends forever

Will we think about tomorrow like we think about now?
Can we survive it out there?
Can we make it somehow?
I guess I thought that this would never end
And suddenly it's like we're women and men
Will the past be a shadow that will follow us 'round?
Will these memories fade when I leave this town
I keep, I keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's a time to fly

Monday, October 24, 2011

Bakso Keju

Awalnya saya terinspirasi ingin mencoba membuat bakso sendiri waktu nonton acara Rachel Ray di metro tv kemarin. Di acara itu ada dua orang tamu yang membuat bakso, namun bakso ala Eropa yang disajikan dengan saus.

Akhirnya tadi sore saya langsung mewujudkan ide bikin bakso tersebut. Ternyata bahan-bahannya tidak terlalu banyak, cara membuatnya pun sangat mudah. Bakso ini kemudian saya kreasikan dengan keju di dalamnya, terinspirasi dari bakso keju yang dijual di kantin SMA saya, SMAN 78.

Bahan-bahannya adalah sebagai berikut:

1. Daging sapi cincang 250 gr

2. Tepung tapioka 5 sdm

3. Putih telur 1 butir

4. Bawang putih 3 siung

5. Garam 1 sdm

6. Merica 1 sdm

7. Pala secukupnya

8. Penyedap rasa kaldu sapi 1 bungkus

9. Keju secukupnya

10. Air es secukupnya


Langkah-langkah membuat:

1. Haluskan bawang putih dan pala, campur dengan garam dan merica.

2. Masukan daging sapi cincang, putih telur, beserta bumbu ke dalam blender, kemudian tambahkan air es secukupnya, blender hingga adonan halus dan tercampur rata.


3. Buat bulatan-bulatan adonan bakso menggunakan tangan atau sendok. Jangan lupa lumuri tangan atau sendok dengan minyak goreng agar tidak lengket.

4. Isi bagian tengah bulatan adonan dengan potongan keju.


5. Masak air hingga mendidih, masukan bulatan-bulatan bakso ke dalam air yang telah mendidih selama 15-20 menit.

6. Bakso siap dihidangkan. Bakso dapat dipadukan dengan kuah atau dijadikan masakan lain, misalnya capcay.


 

Template by Suck My Lolly - Background Image by TotallySevere.com